DISKUSI TENTANG UNIVERSITAS IDEAL DI UNIVERSITAS ISLAM RIAU

DISKUSI TENTANG UNIVERSITAS IDEAL DI UNIVERSITAS ISLAM RIAU

Artikel ke-1.363

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

          Pada hari Kamis (24/11/2022), saya diundang dalam sebuah acara diskusi terbatas dengan para dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau (UIR). Temanya sangat menarik. Yakni, bagaimana konsep dan strategi mewujudkan universitas ideal.

          Acara itu sangat istimewa dan berat. Yang hadir adalah dekan dan  mantan dekan serta sejumlah dosen Fakultas Psikologi UIR.  Selain pakar di bidang psikologi, mereka juga merupakan praktisi pendidikan tinggi.

          Saya mengawali paparan dengan mengingatkan para dosen pada buku yang ditulis oleh Peter Fleming, berjudul: “Dark Academia; How Universities Die”. Buku ini mengungkap sisi gelap universitas yang melenceng dari nilai-nilai pendidikan tinggi. Dark Academia menyoroti banyak kampus di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, yang tak lagi mendukung kualitas akademik akibat terkurung sistem neoliberal yang kapitalistik sehingga universitas cenderung berorientasi bisnis.

            Berikutnya, saya mengajak para dosen menengok kritik mantan Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikubud, Prof. Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro terhadap praktik pendidikan tinggi di Indonesia. Dalam artikelnya di Harian Kompas, (29/6/2013), yang berjudul “Marginalisasi Perguruan Tinggi”, Prof. Soemantri menulis: “Sampai detik ini, pemahaman publik tentang fungsi perguruan tinggi ternyata belum utuh dan masih salah kaprah. Kesalahan fatal ialah penempatan perguruan tinggi negeri sebagai unit pelaksana teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sementara perlakuan terhadap perguruan tinggi swasta sebagai unit usaha dari yayasan atau badan wakaf.

Dengan kedudukan seperti itu, perguruan tinggi negeri (PTN) tidak lebih dari sebuah kantor jawatan, sementara perguruan tinggi swasta (PTS) tidak lebih dari sebuah unit usaha. Artinya, di sini terjadi marginalisasi fungsi perguruan tinggi dari yang seharusnya, yakni sebagai agen pembangunan bangsa melalui pengembangan ilmu pengetahuan bagi kemaslahatan manusia.”

            Memang, tulis Prof. Satrio, PTN dan PTS terkesan menyelenggarakan pendidikan tinggi, tetapi sejujurnya mereka belum melakukan pendidikan tinggi secara utuh dan hakiki. Apa yang dilakukan oleh PTN hanyalah formalitas persekolahan tingkat tinggi (maksudnya setelah SMA/SMK), sedangkan yang dilakukan PTS saat ini adalah persekolahan tingkat tinggi dengan memperlakukan mahasiswa sebagai komoditas. Akibatnya, mutu pendidikan tinggi di Indonesia sangat rendah karena jauh sekali dari hakikatnya.

            Konsep universitas ideal pernah disampaikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Konferensi Pendidikan Islam di Kota Mekkah tahun 1977.  Prof. Naquib al-Attas menjelaskan: “Tujuan pendidikan tinggi dalam Islam adalah membentuk ‘manusia sempurna’ atau ‘manusia universal’.”

Prof. Wan Mohd Nor menguraikan gagasan Prof. al-Attas tersebut sebagai berikut: “Sebuah universitas seharusnya merupakan gambaran dari manusia universal atau ‘insan kamil’… Golongan insan kamil ini dipimpin oleh Nabi Muhammad saw, diikuti semua nabi dan para hamba pilihan-Nya, yaitu para aulia dan ulama yang ilmu dan pemahaman spritualnya sangat mendalam.” (Ibid)

Jadi, ringkasnya, universitas adalah tempat mendidik manusia agar menjadi manusia yang baik, dengan model ideal sosok Nabi Muhammad saw. Beliau adalah makhluk terbaik (khairul anam) dan model ideal (uswatun hasanah). Rasulullah saw merupakan manusia dengan akhlak yang sangat agung. Dengan kata lain, para dosen dan mahasiswa wajib berjuang memperbaiki diri agar semakin meningkat iman dan akhlaknya, sehingga semakin mendekai model ideal tersebut.

Lanjut baca,

https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/diskusi-tentang-universitas-ideal-di-universitas-islam-riau

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait