DIALOG DENGAN SANTRI TENTANG PROFESI MASA DEPAN

DIALOG DENGAN SANTRI TENTANG PROFESI MASA DEPAN

 Artikel ke-1.418

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

            Hari Kamis malam (19/1/2023), saya mengundang beberapa santri tingkat SMA yang segera akan mengakhiri jenjang pendidikan SMA-nya. Saya menjelaskan tentang pentingnya melaksanakan musyawarah dan shalat istikharah dalam menentukan pilihan kuliah di Perguruan Tinggi. Dan sebagai muslim, apalagi sebagai santri, kewajiban utamanya adalah menjaga aqidah, ibadah, akhlak, dan juga melaksanakan dakwah.

            Seorang santri menyampaikan pandangan, bahwa ia berencana melanjutkan kuliah dengan mengambil satu jurusan tertentu di bidang Teknologi Informasi. Apakah hal itu pilihan yang tepat? Katanya, ia punya potensi di bidang itu.

            Menjawab pertanyaan santri itu, saya menjelaskan kondisi banyak universitas modern saat ini dan keterbatasannya dalam mendidik mahasiswa menjadi manusia seutuhnya. Padahal, kewajiban utama seorang muslim adalah menjadi muslim yang baik. Termasuk kriteria “muslim yang baik” adalah yang mampu memahami potensi diri dan mampu mengembangkannya secara optimal.

            Jika seorang muslim masuk kategori pintar dengan potensi intelektual yang cukup tinggi, maka ia sepatutnya ia mengutamakan untuk menerapkan peta jalan perjuangan dan pemikiran; bukan mengutamakan peta jalan pekerjaan. Maksudnya, jadilah ilmuwan dan ulama dengan kekhususan ilmu fardhu kifayah tertentu yang dibutuhkan oleh umat.

            Kecuali, jika seorang itu dituntut oleh keluarganya untuk segera bekerja mencari nafkah, karena harus membantu ekonomi keluarganya. Dalam kondisi seperti ini, saya menyarankan, sebaiknya menekuni ilmu atau keahlian tertentu yang diperlukan untuk membantu keluarganya. Tetapi, dengan catatan, ia tetap berusaha menjaga semangat untuk mencari ilmu.

            Kepada santri tersebut, saya sarankan, agar jangan menvonis dirinya dengan keterbatasan tertentu. Misalnya, dengan mengatakan, “Saya bisanya hanya ini; bakat saya adalah ini, dan tidak perlu mencari ilmu yang lain.”  

            Para ulama dan ilmuwan muslim memberikan teladan, bagaimana mereka mampu menguasai berbagai bidang ilmu, karena tidak terjebak dalam pemikiran linierisme yang sempit. Apalagi, bagi insan yang dikaruniai kecerdasan, maka perlu berpikir dan menjalani proses pendidikan untuk menjadi ulama dan ilmuwan di bidang tertentu.

            Kepada santri itu, saya sarankan agar lebih fokus untuk menjadi ilmuwan pejuang, dan jangan terlalu cepat menentukan jenis profesi praktis yang akan ditekuninya. Sebab, saya melihat, ia termasuk kategori santri cerdas. Bahkan, sebagai muslim, yang paling utama adalah menempa diri menjadi pribadi yang tangguh dengan adab dan ilmu yang wajib dia kuasai.

Sebagai umat Muhammad saw, maka umat Islam adalah ummatur risalah; umat pejuang yang bertugas melanjutkan perjuangan para Nabi dalam menegakkan kalimah Tauhid dan mewujudkan kehidupan yang rahmatan lil-alamiin. Allah pun sudah menjanjikan, “Jika kamu menolong agama Allah, maka pasti Allah akan menolongmu!” (QS Muhammad: 7).

Aktivitas terbaik adalah menjadi orang-orang yang melaksanakan kegiatan menyeru manusia kepada Allah. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim!” (QS Fushshilat: 33).

Lanjut baca,

https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/dialog-dengan-santri-tentang-profesi-masa-depan

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait