LINDUNGI ANAK-ANAK DARI DARI ILMU YANG MUDHARAT

LINDUNGI ANAK-ANAK DARI DARI ILMU YANG MUDHARAT

Artikel ke-1.419

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

            Negara kita memberikan perhatian khusus terhadap masalah perlindungan anak dan perempuan. Untuk itu, dibentuk satu kementerian khusus bernama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).

Dalam Peraturan Menteri PPPA Nomor 2 Tahun 2022, disebutkan: “bahwa setiap perempuan dan anak berhak untuk mendapatkan rasa aman dan pelindungan dari segala bentuk kekerasan, penyiksaan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya yang dapat merendahkan derajat manusia dan melanggar hak asasi manusia sehingga dibutuhkan layanan perlindungan perempuan dan anak.”

            Dalam Peraturan Menteri PPPA disebutkan juga penjelasan tentang definisi “Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK)”, yaitu: “Anak dalam situasi darurat, Anak yang berhadapan dengan hukum, Anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, Anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, Anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, Anak yang menjadi korban pornografi, Anak dengan HIV/AIDS, Anak korban penculikan, penjualan, dan/atau perdagangan, Anak korban kekerasan fisik dan/atau psikis, Anak korban kejahatan seksual, Anak korban jaringan terorisme, Anak penyandang disabilitas, Anak korban perlakuan salah dan penelantaran, Anak dengan perilaku sosial menyimpang, dan Anak yang menjadi korban stigmatisasi dari pelabelan terkait dengan kondisi orang tuanya.”

Sedangkan yang dimaksud dengan “Kekerasan Terhadap Anak (KTA) adalah:  “Setiap perbuatan terhadap Anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.”

            Menurut Peraturan Menteri PPPA ini: Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”  

*****

            Itulah peraturan resmi pemerintah tentang anak dan seputar perlindungan yang harus diberikan kepada mereka. Mengapa ada perhatian khusus untuk melindungi perempuan dan anak dan mengapa tidak ada perhatian khusus terhadap laki-laki dewasa?

Mungkin, dalam pandangan para penyusun kebijakan di pemerintahan, laki-laki dianggap mampu melindungi dirinya sendiri. Setidak-setidaknya, laki-laki dianggap lebih kuat dan mampu memberdayakan dirinya sendiri, sehingga tidak memerlukan anggaran khusus untuk perlindungan dan pemberdayaan laki-laki.

            Jika dibaca dengan cermat Peraturan Menteri PPPA tentang perlindungan anak tersebut tidak disebutkan secara verbal, bahwa anak-anak harus dilindungi dari asupan ilmu atau informasi yang berbahaya. Mungkin ini bisa dimasukkan ke dalam cakupan makna: “… dan perlakuan salah lainnya yang dapat merendahkan derajat manusia dan melanggar hak asasi manusia.”

            Termasuk makna “perlakuan salah” adalah memberikan asupan ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat, bahkan ilmu-ilmu yang mudharat. Seperti halnya tubuh anak-anak yang memerlukan asupan makanan yang sehat, maka jiwa manusia juga memerlukan asupan makanan jiwa yang sehat. Itulah ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Lanjut baca,

https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/lindungi-anak-anak-dari-dari-ilmu-yang-mudharat

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait