MASALAHNYA, APAKAH MAU DAN BERANI MENERAPKAN ISLAMISASI ILMU

MASALAHNYA, APAKAH MAU DAN BERANI MENERAPKAN ISLAMISASI ILMU

 Artikel ke-1.417

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

 

Pada hari Selasa (17/1/2023) saya diundang untuk memberikan sambutan pada acara bedah buku tentang Integrasi Ilmu dan Islam, di sebuah kampus di Jakarta. Hadir sejumlah guru besar dari beberapa Perguruan Tinggi. Secara daring ada dua guru besar yang memberikan sambutan.

Karena hanya diberi waktu tujuh menit, maka saya tidak membahas tentang konsep integrasi ilmu dengan Islam. Saya hanya mengajak para hadirin – daring dan luring -- untuk merenungkan kembali sejarah perjuangan umat Islam dalam mewujudkan universitas ideal, sesuai dengan konsep pendidikan dalam Islam.

Sejak penjajah Belanda menerapkan Politik Etis tahun 1901, dilakukanlah upaya besar-besaran untuk melakukan sekularisasi dan kristenisasi melalui pendidikan. Di tingkat universitas, ada tiga universitas milik Belanda, yaitu Sekolah Tinggi Teknik di Bandung, Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta, dan Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta.

Maka, Kongres Masyumi di Yogyakarta tahun 1944 menghasilkan keputusan untuk membentuk Panitia Pendirian Universitas Islam yang diketuai Mohammad Hatta dan sekreteris Mohammad Natsir. Dan pada 8 Juli 1945, berdirilah universitas Islam yang pertama di Indonesia, bernama Sekolah Tinggi Islam (STI).

Meskipun penjajah telah hengkang secara fisik, tetapi cengkeraman hegemoni pemikiran sekuler dalam dunia pendidikan secara global tetap berlangsung. Pemikiran sekuler, materialis, dan pragmatis, masih sangat kokoh di seluruh jenjang pendidikan.

Tantangan pendidikan terberat justru ada di jenjang pendidikan tinggi, dimana ilmu-ilmu sekuler masih mendominasi. Akibatnya, manusia tidak dididik untuk menjadi manusia yang seutuhnya, sebagai hamba Allah dan khalifatullah fil-ardl. Terjadilah loss of adab, hilang adab.  Segala sesuatu tidak diletakkan secara adil dan beradab.

Menjadi manusia yang profesional dan bisa mandiri untuk mencari nafkah adalah hal penting. Tetapi, itu bukanlah hal yang utama dalam pendidikan. Yang utama adalah mendidik mahasiswa memahami makna dan tujuan hidupnya, ditambah satu keahlian yang diperlukan dalam hidupnya.

Kekacauan ilmu (confusion of knowledge) inilah yang menyebabkan terjadinya hilang adab. Dari situ muncul dampak berikutnya, yaitu lahirnya pemimpin-pemimpin palsu dalam berbagai bidang dan tingkatan. Jika kekacauan ilmu itu terjadi di peringkat pendidikan tinggi, maka lahirlah guru-guru, orang tua, dan pemimpin yang keliru dalam memahami pembangunan dan menyusun program-program pembangunan.

Pemimpin dianggap sukses jika berhasil meningkatkan pendapatan rakyatnya. Tetapi, tidak diperhatikan, apakah tingkat ketaqwaan dan akhlak masyarakat itu meningkat atau tidak. Padahal, QS al-A’raf ayat 96 menjelaskan, bahwa jika penduduk satu negeri itu beriman dan bertaqwa, maka Allah akan memberikan berkah dari langit dan bumi.  

Lanjut baca,

https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/masalahnya,-apakah-mau-dan-berani-menerapkan-islamisasi-ilmu

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait