Mengakar pada Adab: Menemukan Jalan Kebangkitan Umat Menuju Indonesia 2045

Mengakar pada Adab: Menemukan Jalan Kebangkitan Umat Menuju Indonesia 2045

Dalam hiruk-pikuk media sosial saat ini, umat Islam Indonesia sering kali terseret ke dalam isu-isu sesaat yang tidak fundamental.

Adianhusaini.id, Jakarta-- Mulai dari perdebatan sengit mengenai konflik geopolitik global seperti ketegangan Iran-Israel, hingga silang pendapat mengenai perbedaan hari raya yang tidak kunjung usai meski perayaannya telah lewat. Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar: apa sebenarnya akar masalah yang menghambat kemajuan umat dan bangsa ini?

Dr. Adian Husaini, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), dalam sebuah diskusi mendalam kembali mengingatkan kita pada tesis besar yang diwariskan oleh intelektual terkemuka, Prof. Dr. Syed Muhammad Naqib Al-Attas. Menurut beliau, krisis utama yang dihadapi umat Islam saat ini adalah loss of adab atau hilangnya adab.

Melampaui Sekadar Sopan Santun

Banyak orang salah kaprah dengan mengartikan adab hanya sebatas sopan santun atau tata krama pergaulan. Namun, dalam pemikiran Prof. Al-Attas, adab memiliki makna yang jauh lebih luas dan mendalam. Adab adalah right action—sebuah tindakan tepat yang lahir dari pengenalan (recognition) dan pengakuan (acknowledgement) terhadap hakikat segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Adab mencakup spektrum yang luas, mulai dari masalah tauhid, budaya, hingga penggunaan bahasa. Ketika seseorang kehilangan adab, ia akan mengalami kekacauan ilmu (confusion of knowledge). Kekacauan inilah yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai false leaders atau pemimpin palsu di berbagai level, mulai dari lingkup rumah tangga hingga kepemimpinan negara. Pemimpin-pemimpin yang tidak layak ini pada akhirnya melanggengkan kembali kekacauan ilmu di tengah masyarakat.

Sekularisme sebagai Akar Masalah

Dr. Adian menegaskan bahwa akar masalah di Indonesia—termasuk kerusakan lingkungan dan ketimpangan ekonomi di negeri yang kaya raya ini—adalah sekularisme. Senada dengan pemikiran Mohammad Natsir, sekularisme yang dimaksud bukan sekadar pemisahan agama dari negara, melainkan pola pikir yang menafikan wahyu sebagai dasar ilmu pengetahuan.

Dalam dunia pendidikan, jika konsepnya tidak merujuk pada konsep kenabian Rasulullah SAW, maka institusi tersebut hanya akan melahirkan manusia-manusia sekuler yang mengabaikan dimensi akhirat dan tidak mau diatur oleh nilai-nilai ketuhanan. Oleh karena itu, solusi strategis yang ditawarkan adalah Islamisasi ilmu pengetahuan dan proses ta’dib (penanaman adab).

Belajar dari Sejarah dan Generasi Baru

Kebangkitan sebuah peradaban tidak pernah terjadi secara instan atau hanya bergantung pada hadirnya satu sosok pemimpin politik semata. Merujuk pada karya Dr. Majid Irsan al-Kilani, Hakadha Zhahara Jilu Salahuddin, kemenangan Salahuddin Al-Ayyubi merupakan buah dari persiapan panjang sebuah generasi yang terdidik secara spiritual dan intelektual.

Begitu pula dengan sejarah Indonesia. Tokoh-tokoh seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahlan, dan Mohammad Natsir telah meletakkan fondasi melalui pesantren, sekolah, dan gerakan dakwah. Mereka tidak hanya berteori, tetapi membangun institusi nyata sebagai solusi atas tantangan zaman mereka. Dr. Adian mencontohkan bagaimana Prof. Al-Attas mendirikan ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) pada tahun 1987 sebagai model konkret pendidikan tinggi yang beradab.

Menuju Indonesia Emas 2045

Menyongsong 100 tahun Indonesia pada 2045, umat Islam ditantang untuk tidak hanya berhenti pada aksioma atau slogan-slogan umum seperti "penerapan syariat secara kaffah" tanpa memahami detail pelaksanaannya. Perlu ada langkah sistematis dalam membangun institusi pendidikan yang elegan dan tidak sekuler.

Masjid, misalnya, tidak boleh hanya dipandang sebagai bangunan fisik. Sebelum membangun fisiknya, yang lebih utama adalah menyiapkan manusianya. Masjid harus menjadi pusat peradaban, dakwah, dan perjuangan yang diisi oleh individu-individu yang memiliki kualitas spiritual tinggi—mereka yang tidak takut kecuali kepada Allah.

Jalan menuju Indonesia yang adil, makmur, dan beradab hanya bisa ditempuh melalui jalur pendidikan yang mengutamakan adab. Umat harus berhenti terjebak dalam perdebatan kulit dan mulai fokus pada agenda strategis: mencetak generasi baru yang memiliki ketajaman intelektual sekaligus keluhuran adab. Inilah kunci utama bagi kebangkitan umat dan kemajuan bangsa di masa depan.

Artikel disarikan dari Youtube Channel Adia Husiani,

Link Youtube: https://youtu.be/1DmwogPSPlE

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait