Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Pada tanggal 25-26 Maret 2022, saya melakukan safari dakwah di Kota Pekanbaru, Riau. Alhamdulillah, ada lima acara yang harus saya hadiri. Tak lama setelah keluar dari bandara Sultan Syarif Kasim II, saya diminta mengisi acara perbekalan untuk para muballigh Idarah Kemakmuran Masjid Indonesia (IKMI) Pekanbaru. Temanya “Mujahid Dakwah”.
Menjadi mujahid dakwah adalah cita-cita yang mulia. Negara-negara di dunia pun senantiasa memuji para pahlawan yang dipandang sebagai pejuang cita-cita mulia. Karena itu ada Taman Makam Pahlawan. Tidak ada Taman Makam Pecundang, atau Taman Makam Pengecut. Pejuang adalah para pemberani yang mengorbankan jiwa, raga, dan apa saja yang dimilikinya untuk mengejar cita-cita mulia.
Para mubaligh atau para dai sejatinya adalah para pejuang penegak kebenaran. Umat Islam akan menjadi umat mulia jika mereka menjadi umat pejuang, yakni umat yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. (QS 3:110). Sebaliknya, mereka akan menjadi umat yang hina dan tidak diperhitungkan keberadaannya ketika mereka kehilangan jiwa perjuangan dan terjebak dalam penyakit cinta dunia. Banyak sekali hadits Nabi yang mengingatkan bahaya lemah dan hilangnya jiwa perjuangan.
Karena itulah, dalam sejarah pendidikan Islam, para ulama senantiasa menekankan pentingnya pendidikan yang melahirkan para pejuang. KH Sholeh Iskandar, pendiri Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI), sangat terkenal dengan pernyataannya, bahwa Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan dan sekaligus “lembaga perjuangan” atau lembaga iqamatud din.
Alhamdulillah, semasa tinggal di Bogor (1984-1993), berpuluh kali, saya sempat berjumpa dan berdiskusi dengan KH Sholeh Iskandar. Beliau adalah ulama teladan dalam upaya memajukan pondok pesantren. Kini, nama KH Sholeh Iskandar diabadikan menjadi salah satu nama jalan raya di Kota Bogor.
Sahabat dekat KH Sholeh Iskandar, yakni Mohammad Natsir, juga menjelaskan peran penting pondok pesantren sebagai lembaga perjuangan. Menurut Pak Natsir, pesantren didirikan oleh para kyai untuk merespon Politik Etis penjajah. Lebih jauh, Mohammad Natsir menjelaskan keberadaan pesantren sebagai lembaga perlawanan melawan penjajah.
Menurut Mohammad Natsir, para ulama melawan politik pendidikan penjajah dengan mendirikan pesantren yang jauh dari kota-kota, agar para pemuda tidak terpengaruh oleh kehidupan model penjajah.
“Dari apa yang saya kemukakan tadi, jelas terlihat bahwa pesantren adalah lembaga yang dikembangkan dalam rangka perjuangan bangsa Indonesia. Dengan demikian, pesantren bukan saja merupakan lembaga pendidikan, tetapi mempunyai peran yang penting dalam perjuangan nasional,” kata Mohammad Natsir.
Menurut Mohammad Natsir, pola perjuangan yang digunakan oleh para ulama itu sebagai satu bentuk perjuangan yang cerdas, bahkan brilliant. Dengan beruzlah di pesantren, para santri dididik gaya hidup zuhud, dan dijauhkan dari penyakit cinta dunia.
Kepada para muballigh di Pekanbaru, saya menyampaikan kembali upaya para ulama dan pemimpin umat Islam dalam merespon Politik Pendidikan penjajah. Mereka paham benar, bahwa model pendidikan penjajah akan melemahkan semangat juang bangsa Indonesia.
Lanjut baca,
https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/pendidikan-yang-melemahkan-jiwa-perjuangan



