Artikel Terbaru ke-2.174
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Pada 12 Mei 2024, situs https://telusur.co.id/ memuat artikel berjudul: “Subianto Djojohadikusumo dari Sekolah Tinggi Kedokteran ke Sekolah Tinggi Islam.” Artikel itu ditulis oleh sejarawan Lukman Hakiem.
Disebutkan, bahwa pada akhir 1944 ada mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran, Ika Daigaku yang tidak mau dicukur rambutnya, dan karena itu dikeluarkan dari Ika Daigaku. Dengan menolak pencukuran paksa, para mahasiswa Ika Daigaku itu sesungguhnya sedang menyatakan sikap menolak penjajahan Jepang.
Tidak lama sesudah pemberontakan mahasiswa ika Daigaku, di Jakarta berdirilah Sekolah Tinggi Islam (STI). Awalnya, hanya diterima 13 mahasiswa, antara lain Anwar Harjono, Subianto Djojohadikusumo (paman Prabowo Subianto) Soeroto Koento, dan Islah Bagdja Nitidiwirja yang kelak berkarir sebagai diplomat.
Bakat kepemimpinan Subianto sudah terlihat sejak di STI. Untuk meneguhkan persatuan di pelajar dan mahasiswa DTI, Subianto menginisiasi pembentukan Persatuan Pelajar STI (istilah mahasiswa di masa itu belum popular).
Bersamaan dengan hijrahnya ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta, STI yang staf pengajarnya mayoritas adalah para menteri dalam Kabinet Presiden Sukarno, ikut hijrah ke Yogya. Nama STI kemudian diubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).
Di samping kuliah, Soebianto aktif dalam gerakan pemuda yang mendesak Sukarno-Hatta supaya segera memproklamasikan kemerdekaan diluar skenario Jepang. Bersama Soebadio Sostrosatomo, Soebianto diberi amanah menyampaikan aspirasi para pemuda kepada Bung Karno dan Bung Hatta.
Ketika aspirasi pemuda itu ditolak oleh Bung Karno, Soebianto dan Soebadio menyambangi Bung Hatta. Seperti Bung Karno, Bung Hatta juga menolak aspirasi pemuda yang disampaikan oleh Subianto dan Subadio.
"Sejak saat itu, kenang Hatta.” Subianto jarang datang ke rumah Hatta.
Sesudah Proklamasi, Subianto kembali rajin menyambangi Hatta, hingga Subianto gugur dalam peristiwa Lengkong, Januari 1946.
Salah seorang sahabat Soebianto di STI, A. Karim Halim mengenang, dibawah kepemimpinan Subianto, PP STI berkembang menjadi organisasi pemuda perjuangan. Tanpa kenal lelah, Subianto kerap mengumpulkan para mahasiswa STI untuk menggembleng mereka dengan nilai-nilai kebangsaan dan kemerdekaan.
Soebianto juga menitipkan beberapa semboyan perjuangan kepada Karim Halim dengan pesan agar semboyan-semboyan itu ditulis dan dilukis di tembok-tembok kota, di trem, gerbong kereta api, dan di badan-badan oto mobil.
Ketika seorang mantan opsir Pembela Tanah Air, Otto Djajasoentara yang sedang mencari keluarganya di Jakarta, menginap di markas PP STI, Karim Halim meminta Otto yang pandai melukis dan bagus tulisannya untuk menuliskan semboyan perjuangan titipan Subianto di tempat-tempat yang strategis.
Lanjut baca,