Menyelami Jejak Pemikiran Dr. Adian Husaini: Dari Berguru pada Mohammad Natsir, Mengkaji Tafsir Bible, hingga Membentengi Peradaban

Menyelami Jejak Pemikiran Dr. Adian Husaini: Dari Berguru pada Mohammad Natsir, Mengkaji Tafsir Bible, hingga Membentengi Peradaban

Percakapan mendalam antara pegiat kristologi Dondy Tan dan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr. Adian Husaini, M.Si., membuka tirai perjalanan intelektual yang langka dan kaya warna.

Adianhusaini.id, Jakarta-- Dari seorang mahasiswa Kedokteran Hewan di Institut Pertanian Bogor (IPB), jurnalis senior, hingga menjadi peneliti pemikiran Islam lulusan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia, Dr. Adian Husaini membagikan rekam jejak perjuangan pemikiran, pengalamannya berguru langsung kepada Perdana Menteri Indonesia ke-5 Mohammad Natsir, serta alasannya secara mendalam mempelajari kajian teks dan hermeneutika Bible.

Artikel ini mengurai secara lengkap dan komprehensif seluruh rangkaian gagasan, pengalaman hidup, serta perspektif kritis yang disampaikan Dr. Adian Husaini dalam dialog hangat dan sarat makna tersebut.

Titisan Pemikiran Mohammad Natsir dan Visi Besar Dewan Dakwah

Dalam memori sejarah intelektual Indonesia, nama Mohammad Natsir tidak sekadar dicatat sebagai tokoh Masyumi atau Perdana Menteri Republik Indonesia. Beliau adalah arsitek dakwah yang mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pada tahun 1967 setelah ruang politik formal bagi umat Islam mengalami penyempitan.

Dr. Adian Husaini mengenang masa-masa awal keterlibatannya di lingkaran Dewan Dakwah sebagai fase pembentukan karakter dan cara pandang. Berguru secara langsung kepada Pak Natsir memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya memandang dakwah secara substantif, strategis, dan jangka panjang.

Menurut Dr. Adian, Pak Natsir senantiasa menanamkan bahwa dakwah tidak boleh berhenti pada retorika di atas mimbar. Dakwah adalah upaya menyeluruh dalam membangun peradaban, memperbaiki akhlak bangsa, serta menghadirkan solusi nyata atas persoalan keumatan dan kebangsaan.

Salah satu pesan legendaris Pak Natsir yang selalu diingat oleh Dr. Adian adalah peringatan terhadap penyakit kronis bangsa yang disebut hubbud dunya (cinta dunia yang berlebihan). Pak Natsir pernah mengingatkan bahwa ketika cita-cita besar telah padam dan orang-orang hanya mengejar kepentingan pribadi, maka reduplah semangat perjuangan sebuah bangsa. Pesan inilah yang menjadi fondasi moral bagi Dr. Adian dalam melanjutkan estafet kepemimpinan di Dewan Dakwah hingga hari ini.

Transformasi Intelektual: Dari Kedokteran Hewan, Jurnalistik, hingga ISTAC

Perjalanan karier akademis dan profesional Dr. Adian Husaini terbilang unik dan melampaui sekat-sekat disiplin ilmu konvensional. Mengawali pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Hewan IPB, beliau ditempa dengan logika sains saintifik yang ketat. Namun, ketertarikannya yang mendalam terhadap dunia pemikiran, sosial, dan keislaman mendorongnya melangkah ke dunia kewartawanan.

Sebagai jurnalis di Harian Republika pada era 1990-an, Dr. Adian mengasah ketajaman analisis, kedisiplinan riset, serta keberanian dalam menyuarakan kebenaran. Dunia pers memberinya akses langsung untuk merekam dinamika sosial-politik tanah air dan berinteraksi dengan berbagai tokoh lintas pemikiran.

Dahaga intelektual itu kemudian membawanya menempuh studi magister dan doktoral di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia. Di bawah bimbingan guru besar pemikiran Islam terkemuka, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Dr. Adian mendalami tradisi keilmuan Islam, sejarah peradaban Barat, serta metodologi perbandingan agama.

Pengalaman intelektual di ISTAC inilah yang mendewasakan pandangannya tentang pentingnya adab dalam ilmu pengetahuan. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kekacauan berpikir, sedangkan ilmu yang dilandasi adab akan membimbing manusia menuju pengenalan kebenaran yang sejati.

Mengapa Mempelajari Tafsir Bible dan Dokumen Konsili Vatikan II?

Salah satu aspek paling menarik dari latar belakang akademis Dr. Adian Husaini yang dibahas bersama Dondy Tan adalah penelitian doktoralnya yang secara khusus membedah dokumen-dokumen Gereja Katolik dan hermeneutika Bible. Disertasi doktoral beliau mengkaji secara kritis dokumen Konsili Vatikan II, khususnya Nostra Aetate dan Ad Gentes, yang mengatur sikap Gereja terhadap agama-agama non-Kristen dan misi penginjilan.

Dr. Adian menjelaskan bahwa keputusan untuk mempelajari teks-teks Alkitab, sejarah pembentukan kanon, hingga metode tafsir Bible (hermeneutika) lahir dari dorongan obyektivitas ilmiah dan kebutuhan apologetika yang rasional. Dalam tradisi ilmu perbandingan agama (ilmu perbandingan din), seorang peneliti tidak boleh sekadar berasumsi atau menggunakan prasangka, melainkan harus membaca langsung sumber-sumber primer yang diakui oleh tradisi agama tersebut.

Beliau menguraikan perbedaan mendasar antara Al-Qur'an dan Bible dari sudut pandang sejarah teks (textual criticism):

  1. Al-Qur'an: Dipelihara melalui tradisi hafalan (hafizh) dan tulisan secara simultan sejak zaman Nabi Muhammad SAW, dengan rantai transmisi (sanad) yang bersambung (mutawatir) serta bahasa asli (Arab) yang tetap hidup dan digunakan secara otentik hingga kini.
  2. Bible / Alkitab: Memiliki sejarah penyusunan dan penerjemahan yang kompleks, melewati berbagai revisi manuskrip (dari bahasa Aram, Yunani, Latin, hingga bahasa-bahasa modern), serta melibatkan perdebatan doktrinal sengit di antara para bapa gereja selama berabad-abad.

Ketika ilmuwan Barat pada abad ke-18 dan 19 mulai menerapkan metode kritik sejarah (historical-critical method) terhadap Bible, mereka menemukan banyaknya variasi teks dan latar belakang historis yang memicu krisis keimanan di Barat. Dari rahim krisis inilah lahir metode hermeneutika sebagai sarana untuk menafsirkan kembali teks Alkitab agar tetap relevan dengan zaman.

Dr. Adian menekankan bahaya kritis ketika sebagian kalangan berupaya mengimpor begitu saja metode hermeneutika Bible ini untuk menafsirkan Al-Qur'an. Menurut beliau, mengaplikasikan metode yang dirancang untuk teks yang bermasalah sejarahnya kepada Al-Qur'an yang otentik adalah sebuah kekeliruan metodologis yang fatal.

Menghadapi Ghazwul Fikri dan Bahaya Liberalisme Pemikiran

Diskusi semakin menghangat ketika membahas tantangan ghazwul fikri (perang pemikiran) di era modern. Dr. Adian Husaini menegaskan bahwa ancaman terbesar terhadap identitas dan akidah umat Islam hari ini bukan lagi berupa serangan fisik, melainkan infiltrasi gagasan yang meragukan kebenaran ajaran Islam itu sendiri.

Gagasan-gagasan seperti sekularisme, pluralisme agama yang menyamakan semua agama, serta relativisme kebenaran diusung melalui kemasan modernitas dan kebebasan berpikir. Dampaknya, sebagian generasi muda Muslim kehilangan rasa bangga (pride) terhadap sejarah dan kebudayaan Islam, lalu memandang agamanya sendiri dengan kacamata Barat yang skeptis.

Dalam pandangan Dr. Adian, sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan publik dan keilmuan adalah produk dari pengalaman sejarah traumatik masyarakat Eropa terhadap institusi gereja di Abad Pertengahan. Mengimpor pemisahan tersebut ke dalam dunia Islam—yang secara historis justru mencapai puncak kejayaan peradaban ketika ajaran agamanya diamalkan secara utuh—merupakan sebuah kesalahan arah sejarah.

Strategi Dakwah Era Digital dan Pentingnya Pendidikan Berbasis Adab

Menanggapi realitas zaman yang terus berubah, Dondy Tan dan Dr. Adian Husaini sepakat bahwa metode dakwah harus terus bertransformasi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip mendasar (usul).

Penggunaan media digital, platform video, serta pendekatan dialogis yang rasional menjadi sarana vital untuk menjangkau generasi muda. Dalam konteks ini, keberadaan da'i dan kristolog yang menguasai data, berpengetahuan luas, serta santun dalam menyampaikan kebenaran menjadi sangat krusial.

Dr. Adian memaparkan beberapa pilar penting dalam penataan strategi dakwah dan pendidikan masa depan:

  • Pendidikan Berbasis Adab dan Karakter: Mengembalikan fungsi utama pendidikan untuk membentuk manusia yang beradab dan bertakwa, bukan sekadar mencetak tenaga kerja yang berorientasi materialistis.
  • Penguasaan Literasi Keilmuan yang Komprehensif: Para mubaligh dan dai tidak hanya dituntut menguasai ilmu-ilmu syariat, tetapi juga memahami peta pemikiran modern, sejarah peradaban dunia, serta dinamika sosial-politik.
  • Kedermawanan Keilmuan dan Kaderisasi: Melahirkan generasi penerus yang tangguh, siap mengabdi di berbagai daerah pelosok Indonesia, serta menjadi teladan di tengah masyarakat. Dewan Dakwah sendiri secara konsisten terus mengirimkan ratusan dai ke daerah-daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) untuk membina mental dan spiritual warga.

Kesimpulan: Melestarikan Warisan Keteladanan untuk Indonesia

Perbincangan antara Dondy Tan dan Dr. Adian Husaini menyajikan gambaran utuh tentang seorang cendekiawan Muslim yang konsisten memadukan kedalaman ilmu, ketajaman analisis, dan keberanian bersikap. Dari bimbingan tokoh besar Mohammad Natsir hingga pengalaman mengkaji tradisi intelektual Barat dan ilmu perbandingan agama, Dr. Adian Husaini menunjukkan bahwa kekuatan utama umat Islam terletak pada kejujuran ilmiah, keteguhan akidah, serta komitmen untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa dan negara.

Di tengah gelombang modernisasi dan ketidakpastian global, narasi perjuangan pemikiran ini menjadi pengingat penting: bahwa untuk melangkah jauh ke depan, sebuah bangsa tidak boleh kehilangan akar sejarah, identitas spiritual, dan keteladanan para pendirinya. [AF]

Disarikan dari Link Youtube: https://youtu.be/FHZSYBOlW7A?si=kZqJbARZRHPCP1So

 

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait