MISI KRISTEN DAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA

MISI KRISTEN DAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA

Artikel Terbaru (ke-1.573)

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

            Menelaah berbagai kasus konflik hubungan umat beragama di Indonesia, bisa disimpulkan adanya sejumlah faktor penyebabnya. Bukan hanya soal radikalisme dan intoleransi. Tapi, ada beberapa faktor lainnya, seperti faktor kristenisasi.

            Di antara faktor-faktor penyebab konflik umat beragama, yang seharusnya bisa diatasi oleh berbagai pihak adalah mendudukkan masalah Kristenisasi dengan tepat. Masalah ini perlu dibahas secara jujur dan terbuka. Proses Kristenisasi di Indonesia berjalan terus, sebab dipandang sebagai kewajiban agama.

Julius Richter, D.D. merekomendasikan empat bentuk aktivitas untuk melakukan misi Kristen di dunia Islam, yaitu (1) medical missions, (2) distribution of Christian literature, (3) Christian schools, dan (4) women’s work.  Misi Kristen di dunia Islam – termasuk di Indonesia – tampaknya belum keluar dari rekomendasi Richter tersebut. Sebutlah kasus berdirinya sekolah-sekolah Kristen di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Richter menyebut, sekolah itu memang seyogyanya ditujukan untuk anak-anak Muslim (should be opened as soon as they can be filled with Muhammadan children). (Julius D.D. Richter,  A History of Protestant Missions in The Near East,  Oliphant, Anderson&Ferrier, Edinburgh-London, 1910).

             Dalam pidatonya saat menyongsong Yubileum Agung Tahun 2000, Paus menyatakan:

“Jumlah mereka yang tidak mengenal Kristus dan tidak menjadi anggota Gereja terus-menerus bertambah. Sungguh, sejak akhir Konsili (Vatikan II) jumlahnya hampir dua kali lipat. Bila kita memperhatikan bagian umat manusia yang besar ini yang dicintai Bapa dan kepada mereka Bapa mengutus Putra-Nya, mendesaknya tugas perutusan Gereja jelas sekali... Di hadapan Gereja, Allah membuka cakrawala kemanusiaan yang lebih siap untuk penaburan Injil. Saya merasa bahwa saatnya sudah tiba, yaitu saat untuk mengabdikan seluruh tenaga Gereja untuk penginjilan baru dan untuk perutusan kepada bangsa-bangsa (ad gentes). Tak ada satu pun orang yang beriman akan Kristus, tidak satu pun lembaga Gereja dapat menghindari tugas luhur ini: memaklumkan Kristus kepada semua bangsa. (RM no. 3)." (Lihat buku "Bersatu dengan Roh Yang Menghidupkan, Yubileum Agung Tahun 2000, Kanisius, Yogyakarta, 1998).

Sejak dulu, Indonesia dianggap sebagai lahan subur untuk Kristenisasi. Berkhof menyatakan, “Indonesia adalah suatu daerah Pekabaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit Firman Tuhan.”  (H. Berkhof,   Sejarah Gereja, BPK Gunung Mulia, 1990).

            Sekolah-sekolah Kristen menjadi agen penting penyebaran misi Kristen di Indonesia. Buku Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Mata Pelajaran Agama Katolik untuk Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, terbitan Depdikbud tahun 1992,  menyebutkan Tujuan Pendidikan agama Katolik, antara lain: (1) Siswa mengenal dan mencintai tokoh-tokoh Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam keseluruhan sejarah keselamatan, (2) Siswa mengenal dan mencintai Yesus Kristus serta dapat mengungkapkannya dalam doa.

Jika misi Kristen mengharuskan umatnya untuk menyebarkan agamanya dan memperbanyak pengikutnya, kaum Muslim juga merasa berkewajiban membentengi umatnya dari proses pemurtadan. Bahkan, umat Islam juga wajib melaksanakan dakwah kepada seluruh umat manusia, termasuk kepada kaum Kristen.

Lanjut baca,

MISI KRISTEN DAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA (adianhusaini.id)

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait