HATI-HATI DENGAN PAHAM RELATIVISME KEBENARAN

HATI-HATI DENGAN PAHAM RELATIVISME KEBENARAN

(Artikel ke-1.257)

Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

            Sebagian kalangan saat ini masih ada yang menyebarkan paham relativisme akal dan relativisme kebenaran. Mereka sering menyatakan, bahwa akal manusia bersifat relatif, sedangkan Tuhan itu bersifat mutlak atau absolut, sehingga tidak semua kebenaran Tuhan dapat dipahami oleh manusia.

Karena iru, janganlah seorang pemeluk agama memutlakkan pendapatnya dan menyalahkan agama atau pendapat orang lain; jangan sok merasa benar sendiri; jangan sok menjadi Tuhan, menyatakan pihak lain salah, sesat, dan sebagainya. Siapa yang benar dan siapa yang salah baru diketahui nanti setelah Kiamat.           

Dengan ungkapan seperti itu, mereka bermaksud membangun pola baru hubungan antar umat beragama, dari yang eksklusif (yang mengakui kebenaran agamanya sendiri) menjadi inklusif atau bahkan pluralis. Dengan itulah, kata mereka, maka kerukunan umat beragama dapat diwujudkan. Sebab, tidak ada lagi klaim kebenaran (absolute truth claim) yang bersifat mutlak pada masing-masing pemeluk agama. Bahkan, oleh Charles Kimball, melalui bukunya, When Religion Becomes Evil, absolute truth claim adalah ciri pertama dari agama jahat (evil).

            Tentu saja, pandangan semacam itu tidak benar, baik secara logika maupun keimanan Islam. Sebelum kerukunan tercapai, reduksi keyakinan/keimanan pada masing-masing pemeluk agama sudah terjadi. Ketika itu pula sebenarnya tidak perlu ada dialog antar pemeluk agama lagi, sebab mereka semua sudah melepaskan imannya masing-masing. Teologinya sudah menjadi satu, universal theology of religion. Ujung dari penyebaran paham adalah yaitu ketidakyakinan atau keraguan umat beragama terhadap kebenaran agamanya sendiri. Inilah akar dari pemikiran Pluralisme Agama yang mengakui kebenaran relatif dari semua agama.

            Pada tataran amal (syariah), paham relativisme iman ini berdampak pada pembongkaran  hukum-hukum Islam yang sudah tsabit (tetap), seperti hukum merayakan 

hari besar agama lain secara bersama-sama, hukum perkawinan antara muslimah dengan laki-laki non-muslim, hukum doa bersama antar agama, dan sebagainya. Karena itu, paham relativisme kebenaran atau relativisme iman ini memang cukup serius untuk diperhatikan.  

            Paus Benediktus XVI sendiri mengingatkan, bahwa Eropa saat ini sedang dalam bahaya besar, karena paham relativisme iman yang mendalam. (Lihat, Libertus Jehani, Paus Benediktus XVI, Palang Pintu Iman Katolik, (Jakarta: Sinondang Media, 2005), hal. 32.).

            Tetapi, di antara umat Islam, justru paham relativisme kebenaran disebarkan dan diajarkan kepada para mahasiswa. Seorang dosen menulis buku untuk mahasiswanya, yang mengajarkan paham relativisme kebenaran. Ia menulis dalam sebuah bukunya, bahwa  “Agama adalah seperangkat doktrin, kepercayaan, atau sekumpulan norma dan ajaran Tuhan yang bersifat universal dan mutlak kebenarannya. Adapun keberagamaan, adalah penyikapan atau pemahaman para penganut agama terhadap doktrin, kepercayaan, atau ajaran-ajaran Tuhan itu, yang tentu saja menjadi bersifat relatif, dan sudah pasti kebenarannya menjadi bernilai relatif.”

Lanjut baca,

https://member.adianhusaini.id/member/blog/detail/hati-hati-dengan-paham-relativisme-kebenaran

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait