Dalam arus modernisasi yang sering kali memisahkan dimensi spiritual dari realitas sosial, karya monumental Mohammad Natsir, Fiqhud Dakwah, hadir kembali sebagai rujukan yang melampaui zaman.
Adianhusaini.id, Jakarta-- Buku ini bukan sekadar literatur akademik yang disusun di balik meja perpustakaan, melainkan sebuah "perjalanan rohani" dan kristalisasi pengalaman perjuangan nyata Pak Natsir dalam menghadapi tantangan dakwah di Indonesia dan dunia internasional1. Relevansi pemikirannya bahkan diakui secara luas di mancanegara, di mana buku ini menjadi bacaan wajib di institusi besar seperti International Islamic University Malaysia (IIUM) dan sangat diapresiasi oleh tokoh-tokoh seperti Anwar Ibrahim.
Dakwah sebagai Aktivitas Utama dan Korps Profesional
Salah satu poin fundamental yang dirumuskan Pak Natsir adalah redefinisi kewajiban dakwah. Beliau menekankan bahwa aktivitas dakwah atau amar makruf nahi mungkar tidak boleh dianggap sebagai pekerjaan sambilan atau "recehan"33333333. Dakwah harus menjadi aktivitas utama bagi setiap Muslim.
Kewajiban ini mencakup dua dimensi: individu dan komunitas. Secara individu, setiap Muslim wajib serius berdakwah dalam kapasitasnya masing-masing. Secara komunitas, Pak Natsir mendorong terbentuknya sebuah "Korps Dakwah" yang sangat profesional. Beliau mengibaratkan korps ini seperti pasukan tempur; jika militer memerlukan kecanggihan fisik, maka umat Islam memerlukan pasukan yang tangguh dan canggih dalam bidang mental, spiritual, dan pemikiran untuk menjaga kedaulatan moral bangsa.
Redefinisi Musibah: Perspektif Epistemologi Islam
Di tengah kecenderungan masyarakat modern yang sering kali menyempitkan makna musibah hanya sebagai bencana ekologi atau kerusakan alam, Pak Natsir menawarkan pandangan yang lebih luas melalui "Epistemologi Islam". Beliau tidak menafikan bahwa kerusakan hutan atau alam adalah penyebab bencana, namun beliau mengingatkan bahwa pemahaman tersebut belum lengkap.
Berdasarkan wahyu sebagai salah satu sumber ilmu di samping panca indra dan akal, musibah juga merupakan bentuk teguran atau ujian dari Tuhan. Pak Natsir merujuk pada prinsip bahwa dosa spiritual yang besar, seperti syirik atau "menduakan Tuhan," mampu mengguncang keseimbangan alam. Merujuk pada Al-Qur'an (Surat Maryam: 88-91), tindakan-tindakan yang mencederai tauhid digambarkan secara metaforis dapat membuat langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh.
Analogi Perahu dan Pentingnya Pencegahan Dini
Dalam menjelaskan tanggung jawab sosial, Pak Natsir menggunakan analogi perahu yang sangat kuat14. Masyarakat digambarkan sebagai penumpang di sebuah perahu dengan dua tingkat15. Jika penumpang di tingkat bawah membiarkan seseorang membocorkan lambung kapal dengan alasan mencari air, maka seluruh perahu—termasuk orang-orang baik di dalamnya—akan tenggelam.
Prinsip ini menegaskan bahwa kemungkaran tidak boleh dibiarkan tumbuh besar. Layaknya bara api, ia harus dipadamkan selagi kecil karena jika sudah membesar, ia akan menghanguskan segala yang ada di sekelilingnya tanpa pandang bulu17. Bencana tidak hanya menimpa pelaku maksiat, tetapi juga mereka yang saleh namun pasif terhadap kerusakan di lingkungannya.
Pendidikan: Melahirkan Mujahid Dakwah
Kritik tajam sering kali diarahkan pada sistem pendidikan yang menganggap ilmu dakwah "murahan" dibandingkan sains dan teknologi19. Pak Natsir memandang hal ini sebagai bentuk loss of adab atau hilangnya adab terhadap ilmu20. Baginya, tujuan utama pendidikan Islam adalah melahirkan "Mujahid Dakwah".
Apapun profesi seseorang—baik itu arsitek, ekonom, maupun insinyur—identitas utamanya haruslah seorang pejuang dakwah yang beriman dan beramal saleh22. Pendidikan harus mampu mengubah individu menjadi bagian dari Umatan Ijabah, yakni umat yang mendapatkan pertolongan dan keberkahan dari Allah karena keseriusannya dalam menyeru pada kebaikan.
Strategi Memilih Lingkungan dan Pasangan Hidup
Pak Natsir juga memberikan panduan praktis dalam menjaga keteguhan iman, termasuk dalam hal memilih pasangan dan lingkungan sosial. Beliau membagi kriteria tersebut ke dalam empat kategori:
- Muhariq Dakwah: Mereka yang menggerakkan dakwah.
- Shahibud Dakwah: Mereka yang mendukung penuh kegiatan dakwah.
- Pasif: Mereka yang tidak berkontribusi namun juga tidak mengganggu.
- Memusuhi: Mereka yang menentang jalannya dakwah.
Sangat disarankan untuk memilih lingkungan dan pendamping hidup dari kategori pertama dan kedua demi keberlangsungan perjuangan. Keteladanan ini ditunjukkan oleh Pak Natsir sendiri, yang memilih hidup dalam kesederhanaan dan keikhlasan, bahkan pernah memilih menjadi guru tanpa bayaran demi menjaga integritas perjuangannya.
Penutup
Mohammad Natsir melalui Fiqhud Dakwah mengajarkan bahwa hidup adalah tentang perjuangan yang tak terputus. Dengan memahami bahwa setiap Muslim adalah pengemban misi dakwah, maka tantangan zaman—baik itu sekularisasi ilmu maupun krisis moral—dapat dihadapi dengan langkah yang tegap dan hati yang ikhlas. Buku ini tetap menjadi kompas yang sangat dibutuhkan bagi siapa saja yang ingin memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan agamanya.
(Disarikan dari podcast Adianhusaini: https://youtu.be/uBAK06GvoaM)



