Menggugat Hakikat Pendidikan: Mengapa Indonesia Perlu Reformasi Pemikiran Pendidikan

Menggugat Hakikat Pendidikan: Mengapa Indonesia Perlu Reformasi Pemikiran Pendidikan

Dunia pendidikan Indonesia tengah berada dalam titik nadir yang mengkhawatirkan. Di tengah hingar-bingar peringatan Hari Pendidikan Nasional dan ambisi menyongsong Indonesia Emas 2045, sebuah pertanyaan fundamental muncul ke permukaan: Apakah institusi pendidikan kita saat ini benar-benar telah melahirkan "manusia terdidik" atau sekadar mencetak "sekrup ekonomi"?

Adianhusaini.id, jakarta-- Dalam sebuah diskusi mendalam di kanal Adianusaini.tv, Dr. Adian Husaini, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), bersama guru muda sekaligus penulis, Fatih Madini, membedah akar masalah pendidikan nasional yang dinilai sudah dalam kondisi darurat.

Pendidikan vs Pengajaran: Warisan Ki Hajar Dewantara yang Terlupakan

Dr. Adian Husaini mengawali diskusi dengan merujuk kembali pada pemikiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1962, Bapak Pendidikan Indonesia tersebut secara tegas membedakan antara "pengajaran" (onderwijs) dan "pendidikan" (opvoeding).

"Pengajaran hanyalah bagian dari pendidikan. Ia adalah proses pemberian ilmu dan kecakapan untuk kehidupan lahir dan batin. Namun, pendidikan jauh lebih luas," ujar Dr. Adian. Menurutnya, hakikat pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

Kenyataan di lapangan menunjukkan adanya pergeseran makna. Pendidikan saat ini lebih condong pada transfer ilmu pengetahuan semata, sementara aspek pembentukan jiwa sebagai "Hamba Allah" dan "Khalifatullah fil Ardh" sering kali terabaikan.

Akar Masalah: Pendidikan sebagai Pabrik Pekerja

Salah satu kritik tajam yang muncul dalam diskusi tersebut adalah dominasi paradigma materialisme dalam kurikulum pendidikan. Dr. Adian menyoroti bagaimana kampus-kampus saat ini lebih berfokus pada cara mencetak pekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi.

"Tidak ada jurusan supaya orang bahagia. Yang ada adalah jurusan supaya orang bisa bekerja. Seolah-olah tujuan utama pendidikan hanyalah soal ekonomi," kritiknya. Meski mengakui bahwa kemandirian ekonomi itu penting, ia menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti di sana. Pendidikan harus mampu melahirkan istri yang baik, anak yang saleh, dan pribadi yang memiliki integritas moral.

Suara Generasi Z: Reformasi Dimulai dari Pikiran

Fatih Madini, yang menulis buku Reformasi Pemikiran Pendidikan Kita pada usia 17 tahun, memberikan perspektif segar dari sudut pandang pendidik muda. Bagi Fatih, reformasi yang paling mendesak bukanlah sekadar perombakan kurikulum secara teknis, melainkan reformasi pemikiran.

Ia menggarisbawahi beberapa ancaman serius yang menghantui generasi muda akibat salah kaprah dalam memandang pendidikan:

  1. Pengikisan Iman: Terpaparnya siswa pada paham sekularisme yang memisahkan agama dari ilmu pengetahuan.
  2. Penyakit Materialisme: Orientasi sekolah yang hanya mengejar ijazah untuk bekerja, yang pada gilirannya membuat seseorang rela menghalalkan segala cara demi keuntungan materi.
  3. Kekeringan Adab: Banyak lulusan bergelar tinggi namun miskin karakter, kejujuran, dan kepedulian sosial.
  4. Kematangan yang Terhambat: Pendidikan gagal mendewasakan pikiran siswa, sehingga banyak remaja yang terjebak dalam perilaku labil bahkan tindakan kriminal karena kehilangan arah hidup.

Fatih merujuk pada pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar pendidikan internasional, yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan dalam Islam adalah menghasilkan "Manusia Baik" (Good Man atau Insan Adabi). "Manusia yang utuh secara raga, pikiran, dan jiwa," tambah Fatih.

Menjadikan Guru sebagai Ujung Tombak Perubahan

Lantas, dari mana reformasi ini harus dimulai? Jawabannya adalah Guru.

Dr. Adian dan Fatih sepakat bahwa gaji guru memang harus naik, namun yang jauh lebih penting adalah mereformasi pikiran guru itu sendiri. Guru tidak boleh hanya menjadi pengajar sains atau ekonomi, tetapi harus menjadi "pendidik" yang mampu menanamkan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap subjek yang diajarkan.

"Pengajar sains harus menjadi pendidik sains yang tidak memisahkan Tuhan dari alam semesta. Pengajar ekonomi harus mampu mendidik siswa tentang bagaimana memandang uang dan kesuksesan bukan hanya dari angka-angka," jelas Fatih.

Menuju Indonesia Emas 2045

Menutup diskusi, Dr. Adian Husaini mengingatkan bahwa Indonesia hanya memiliki waktu sekitar 20 tahun lagi menuju tahun 2045. Waktu yang singkat ini harus digunakan untuk melahirkan satu lapis generasi yang benar-benar berkualitas secara iman, takwa, dan akhlak mulia, sesuai amanat Pasal 31 Ayat 3 UUD 1945.

Reformasi pendidikan ini adalah panggilan bagi para pemangku kebijakan, termasuk Presiden dan Menteri Pendidikan, untuk mendengar suara-suara dari bawah. "Tanggung jawab ini bukan hanya urusan dunia, tapi juga akhirat," pungkas Dr. Adian.

Apakah Anda setuju bahwa pendidikan kita saat ini terlalu fokus pada pekerjaan daripada karakter? Mari diskusikan lebih lanjut atau Anda bisa mulai dengan mendalami konsep pendidikan alternatif yang berbasis pada pemikiran tokoh-tokoh besar bangsa.

Langkah selanjutnya: Apakah Anda ingin saya membuatkan ringkasan poin-poin utama reformasi pendidikan ini untuk dibagikan di media sosial?

(Disarikan dari Youtube Dr AdianHusaini: https://youtu.be/HZWX_vu_yss

 

 

 

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait