60 Tahun Dr. Adian Husaini: Bukan Sekadar Ulang Tahun, Ini Peta Jalan Mengokohkan Adab Menuju Indonesia Emas 2045

60 Tahun Dr. Adian Husaini: Bukan Sekadar Ulang Tahun, Ini Peta Jalan Mengokohkan Adab Menuju Indonesia Emas 2045

Perayaan ulang tahun ke-60 seorang tokoh seringnya menjadi acara intim. Namun, Tasyakuran 60 Tahun Dr. Adian Husaini, cendekiawan Muslim sekaligus Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), pada 17 Desember 2025 ini, akan terasa berbeda.

Adianhusaini.id, Depok-- Acara yang akan digelar secara daring melalui YouTube dan Zoom Meeting ini, ditempatkan sebagai momen peluncuran sebuah dokumen strategis: E-Book "Mengokohkan Peta Jalan Menuju Indonesia Emas 2045".

Dr. Adian, penulis yang dikenal vokal mengkritisi arus liberalisasi di Indonesia , menegaskan satu hal: Indonesia Emas 2045—dengan target ambisius seperti Pendapatan Per Kapita Setara Negara Maju dan Daya Saing SDM Global —tidak akan kokoh tanpa fondasi moral yang kuat. Fondasi itu, menurutnya, adalah adab.

 

Inilah narasi lengkap tentang mengapa perayaan 60 tahun Dr. Adian menjadi panggilan strategis bagi masa depan peradaban Indonesia.

  1. Titik Nol di Tengah Gejolak 1965: Lahir di Depan Polsek Padangan

Untuk memahami tesis adab yang diusung Dr. Adian, kita perlu menengok kembali kelahirannya.

 

Dr. Adian Husaini lahir pada 17 Desember 1965. Tanggal ini sarat makna. Ia lahir tepat pasca-peristiwa G30S/PKI, di tengah gejolak ideologis nasional, bertepatan dengan momen ABRI Masuk Desa. Kelahirannya terjadi di Padangan, Bojonegoro, Jawa Timur, tepat di depan Polsek Padangan.

 

Menariknya, di tengah suasana mencekam pasca-kudeta, sang Ibunda mengenang proses kelahirannya berjalan "gampang". Kontras antara gejolak ideologi di tingkat nasional dan proses kelahiran yang mudah di tingkat personal ini seolah menubuatkan takdirnya: lahir untuk membawa kejelasan wacana di tengah kekacauan.

 

Tugas intelektual Dr. Adian—yang diwujudkan dalam kritik kerasnya terhadap ideologi sekuler dan tuntutan revisi kurikulum sejarah 5—dapat dibaca sebagai respons langsung terhadap trauma ideologis yang melahirkan generasinya.

 

  1. Pilar Keluarga: Adab Warisan Pedagang Pasar dan Guru SD

Tesis adab yang ia ajukan tidak datang dari ruang hampa akademik, melainkan dari kristalisasi nilai keluarga di Desa Kuncen, Bojonegoro.

 

Ibunda (77 tahun di 2025): Penjaga Tradisi dan Ingatan

Dalam perbincangan hangat saat tasyakuran, Ibunda Dr. Adian (pedagang pasar yang mahir matematika) mengungkapkan latar belakangnya: mengenyam 6 tahun Sekolah Arab sebelum nyantri. Ibunda dikenal memiliki ingatan luar biasa, mampu menyebutkan tanggal lahir dan weton seluruh anak, cucu, hingga cicitnya dengan akurat—sebuah simbol koneksi mendalam pada akar budaya dan agama.

Ayahanda (Haji Dahli): Etos Literasi Tinggi

Ayahandanya adalah seorang Guru SD yang berbudaya ilmu tinggi dan senang membaca. Ayahanda, yang jabatan terakhirnya Penilik TKSD Kecamatan, rutin berlangganan majalah keislaman serius seperti Panti Masyarakat Muslimun dan Hidayatullah.

Kombinasi Ayah (intelektual wacana) dan Ibu (praktisi nyantri) inilah yang membentuk kemampuan Dr. Adian untuk berinteraksi di level Ph.D. sekaligus memimpin organisasi dakwah akar rumput (DDII).

Paling fundamental, kakek Dr. Adian (Mbah Sin) punya prinsip tegas: menantunya wajib "bisa mengaji". Prinsip ini menunjukkan bahwa kualifikasi agama (adab) adalah prasyarat utama kehidupan dan pernikahan, jauh di atas pertimbangan materi. Filosofi inilah yang ingin ia jadikan fondasi bangsa.

 

  1. Kritik Tajam: Pendidikan Kita "Jangan Kaleng-Kaleng"

Dalam Peta Jalan 2045, Dr. Adian beranjak dari sebuah kritik: Krisis pendidikan modern adalah kegagalan dalam memberikan kerangka keyakinan yang benar, diakibatkan oleh ancaman sekularisme dan liberalisme.1

Menurutnya, jika pendidikan hanya fokus menjadi pencetak tenaga kerja kompetitif tanpa moralitas, maka:

  • Tujuan utama pendidikan akan bergeser dari pembentukan manusia beradab menjadi sekadar pencetak skill duniawi.
  • Akan terjadi degradasi karakter di tengah arus globalisasi Era Society 5.0, yang membahayakan SDM Indonesia Emas.7

Maka, untuk meraih Indonesia Emas, pendidikannya "jangan kaleng-kaleng".

 

  1. Tesis Peta Jalan: Adab sebagai Arsitektur Kurikulum

Bagaimana mengokohkan peta jalan yang sudah ada? Dr. Adian menawarkan koreksi filosofis yang berpusat pada:

  1. Tujuan Utama Pendidikan: Membangun kesadaran peserta didik bahwa dia adalah makhluk ciptaan Tuhan sehingga memahami tugas dan fungsinya. Kesadaran ini adalah inti dari adab.
  2. Struktur Kurikulum: Kurikulum harus menempatkan adab sebagai basis pendidikan. Setelah adab kokoh, barulah dilanjutkan dengan penekanan pada penguasaan ilmu-ilmu:
  • Fardu Ain: Kewajiban agama dan spiritual.
  • Fardu Kifayah: Ilmu duniawi, teknologi, dan daya saing global, secara proporsional.

 

Peta Jalan 2045 harus dimulai dari revisi filosofis ini. Dr. Adian bahkan menuntut koreksi kurikulum sejarah yang saat ini masih mengajarkan teori evolusi, yang dianggapnya tidak sesuai dengan keyakinan penciptaan manusia dalam Islam, dan karenanya merusak fondasi adab itu sendiri.

 

  1. Dakwah: Senjata Ideologis Menuju Kepemimpinan Global

Sebagai Ketua Umum DDII, Dr. Adian melihat dakwah sebagai strategi peradaban jangka panjang. Ia menegaskan bahwa dakwah adalah pilar utama dalam memperkuat NKRI.

DDII meyakini bahwa Islam mempunyai peluang besar untuk memimpin pada 2045.

Peluang ini harus dijemput melalui strategi dakwah yang menginternalisasi adab di masyarakat. Jika Indonesia Emas ingin memiliki pengaruh di dunia internasional , yang harus kita tawarkan ke dunia adalah model pembangunan yang diikat oleh moralitas dan adab yang kuat, sebagai antitesis terhadap sekularisme global.

Perayaan ulang tahun ke-60 Dr. Adian Husaini, diharapkan bukan sekadar syukuran. Ini adalah peluncuran cetak biru strategis, sebuah pesan tegas bahwa kemajuan material 2045 harus disokong oleh adab yang diwariskan dari akar sejarah, agar Indonesia Emas benar-benar menjadi visi peradaban yang memimpin dunia.

Penulis menyampaikan coretan ini sebagai dukungan supaya Dr Adian Husaini jangan lelah dalam berjuang dalam dakwah, karena yang ingin meredupkan dakwah Islam juga tidak pernah lelah! (Depok, 14-12-2025, Abu Faris)

 

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait