Di tengah disrupsi teknologi dan tantangan ideologi modern, pencarian format perguruan tinggi yang mampu melahirkan pemimpin bangsa yang utuh menjadi krusial.
Adianhusaini.id, Depok-- Dr. Adian Husaini, dalam kanal komunikasinya baru-baru ini, kembali menegaskan visinya mengenai model perguruan tinggi ideal yang tidak hanya mengejar aspek intelektual, tetapi juga kemandirian, fisik, dan adab.
Model tersebut ia sematkan pada Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir. Lembaga yang telah berusia 26 tahun ini tercatat telah meluluskan lebih dari 1.200 sarjana dakwah yang tersebar di seluruh pelosok negeri.
Muhammad Ali Sina: Potret Mahasiswa Multitalenta
Salah satu bukti keberhasilan model pendidikan ini tercermin dalam sosok Muhammad Ali Sina Albasyri. Mahasiswa semester 5 STID Mohammad Natsir ini bukanlah mahasiswa biasa. Ali adalah seorang "pendekar" dalam arti harfiah maupun intelektual.
Di lingkungan Pesantren Attaqwa Depok, Ali dikenal sebagai pengajar yang serba bisa. Ia mengampu mata pelajaran bahasa Arab, mahfudzat, hingga menjadi pelatih bela diri silat. Ketangguhan fisiknya bahkan pernah dibuktikan secara publik saat ia memecahkan 10 tumpukan herbel dalam acara tasyakur pesantren. Namun, di balik kekuatan fisiknya, Ali memiliki kedalaman berpikir yang ia tuangkan dalam tulisan.
"Membela Islam dengan Ilmu dan Adab"
Dr. Adian secara khusus memperkenalkan karya terbaru Ali Sina yang berjudul Membela Islam dengan Ilmu dan Adab. Buku ini merupakan kumpulan kritik tajam terhadap berbagai paham pemikiran modern yang dinilai bersimpangan dengan nilai Islam. Beberapa poin krusial yang dibahas Ali meliputi:
- Kritik terhadap Positivisme: Menelaah nilai-nilai positivisme dalam buku teks IPA SMA di Indonesia.
- Tantangan Ideologi: Kritik terhadap pluralisme, feminisme, LGBT, hingga peradaban Barat.
- Pembelaan Wahyu: Menjawab tuduhan plagiarisme terhadap Al-Qur'an dan membela kehormatan Nabi Muhammad SAW.
- Pendidikan: Pembahasan mendalam mengenai adab dan sejarah peradaban Islam.
"Ini membuktikan bahwa kuliah bukan hanya soal cari makan, tapi soal memahami makna dan tujuan hidup serta kemandirian," ujar Dr. Adian.
Tradisi Literasi: Berawal dari Secangkir Kopi dan Ketekunan Guru
Menariknya, kecintaan Ali pada dunia tulis-menulis tidak muncul secara instan. Ia mengisahkan pengalamannya saat berusia 12 tahun (kelas 1 SMP), di mana ia terpesona melihat gurunya, Ustaz Ahda, yang sedang meronda malam.
Ali melihat sang guru duduk di depan masjid dari jam sembilan malam hingga subuh, ditemani segelas kopi dan lima buah buku. "Kualitas obrolan orang yang rajin membaca sangat berbeda. Hal-hal yang dibicarakan lebih bermanfaat dan berbobot," kenang Ali. Sejak saat itu, ia mulai menekuni literasi, mulai dari menulis makalah saat SMA (Pristek) hingga akhirnya mampu menerbitkan buku.
Jihad Literasi Mahasiswa STID Mohammad Natsir
Ali Sina tidak sendirian. Dr. Adian memamerkan sederet karya mahasiswa lainnya yang telah diterbitkan oleh Fabooks, seperti:
- Fatih Madini: Reformasi Pemikiran Pendidikan Kita dan Solusi Kekacauan Ilmu.
- Nabil: Pemikiran Hamka tentang Islam dan Budaya serta Berkas untuk Indonesia Cerdas.
- Azam: Kritik terhadap Konsep Netralitas Ilmu dan Hikmah Sejarah untuk Indonesia Berkah. (Azam sendiri kini telah melanjutkan studi S2 di kesis UTM, Malaysia).
Kafilah Dakwah: Mengabdi di Pelosok Negeri
Pendidikan di STID Mohammad Natsir tidak berhenti di atas kertas. Sebagai syarat kelulusan dan pematangan jiwa, sebanyak 171 mahasiswa dikirim ke 171 titik di seluruh Indonesia dalam program "Kafilah Dakwah".
Ali Sina sendiri dijadwalkan berangkat ke Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, untuk berdakwah selama bulan Ramadhan hingga Idulfitri. Tugas ini nantinya akan berlanjut menjadi pengabdian selama dua tahun penuh setelah mereka lulus menyandang gelar sarjana.
Kesimpulan: Menuju Indonesia Berkah
Dr. Adian Husaini menekankan bahwa pendidikan ideal harus mengintegrasikan konsep Ta’dib (penanaman adab) sebelum ilmu. Dengan menguasai soft skills (4C: Critical Thinking, Creativity, Communication, Collaboration), generasi muda diharapkan tidak menjadi "budak robot" atau budak kecerdasan buatan (AI).
"Kita optimis masa depan negeri ini akan diisi oleh anak-anak muda yang bastotan fil ilmi wal jismi—unggul dalam ilmu dan kuat secara fisik," pungkas Dr. Adian.
Link Youtube: https://youtu.be/KCAiKRJfxG0



