Menghidupkan Kembali Ruh Negarawan: Komunitas Natsir Muda Resmi Diluncurkan di Bandung

Menghidupkan Kembali Ruh Negarawan: Komunitas Natsir Muda Resmi Diluncurkan di Bandung

Semangat untuk merefleksikan kembali keteladanan dan pemikiran tokoh besar Mohammad Natsir menggelora di kalangan generasi muda Bandung. Hal ini ditandai dengan peluncuran resmi Komunitas Natsir Muda, sebuah inisiatif yang disambut antusiasme luar biasa.

Adianhusaini.id, Bandung—Acara peluncuran komunitas ini berlangsung di Pendopo Kota Bandung pada Selasa, 14 Oktober (tahun yang disebutkan dalam transkrip adalah 225, diasumsikan sebagai tahun terdekat yang relevan dengan aktivitas DDII seperti yang ditemukan dalam informasi umum), yang diresmikan oleh Wali Kota Bandung, Bapak Muhammad Farhan. Respons yang muncul sungguh mengejutkan, dengan lebih dari 300 anak muda mendaftar dalam waktu satu hari.

Dr. Adian Husaini, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), menyatakan bahwa antusiasme ini menunjukkan adanya kerinduan terhadap figur seperti Mohammad Natsir. Komunitas ini hadir dengan visi yang jelas: mendorong anak-anak muda untuk mengkaji, menelaah, dan merefleksikan kembali pemikiran Mohammad Natsir, serta mengontekstualisasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara masa kini.

Bandung dan Suluk Intelektual Natsir

Dr. Adian Husaini menyoroti bahwa Kota Bandung memiliki peran penting dalam penempaan intelektual Mohammad Natsir. Beliau menyebutkan bahwa "intelektualitasnya... tumbuh subur di Kota Bandung ini sejak beliau masuk SMA," yakni AMS (Algemene Middelbare School).

Proses penempaan Natsir tidak hanya terjadi di bangku sekolah formal. Aktivitas intelektualnya dibina secara intensif melalui interaksi dengan guru-guru yang hebat dan berwibawa, di antaranya adalah A. Hassan, Haji Agus Salim, dan Syekh Ahmad Surkati.

Selain itu, Natsir juga membawa serta budaya ilmu yang tinggi dari tanah kelahirannya di Sumatera Barat. Sejak muda, beliau sudah menjalani tradisi budaya ilmu yang hidup di Solo, Maninjau, dan Padang. Tanah Minangkabau telah lama menghasilkan sosok pemikir intelektual besar karena suasana ilmu yang hidup, tidak hanya di surau, tetapi juga di sawah dan di warung, di mana masyarakatnya terbiasa membicarakan ilmu, perjuangan, sejarah, dan peradaban. Budaya inilah yang kemudian dibawa Natsir ke Bandung, menjadikannya sosok yang unik dan tak tertandingi, meskipun banyak anak muda lain yang juga bersekolah di SMA Belanda yang pintar pada saat itu.

Teladan Negarawan di Tengah Keterzaliman

Mohammad Natsir dikenang sebagai sosok yang lengkap: negarawan, guru, dan dai teladan. Salah satu kisah paling menonjol dari keteladanannya adalah integritasnya sebagai negarawan.

Dr. Adian Husaini menceritakan bagaimana Natsir, yang sempat dizalimi oleh Pemerintah Orde Baru, justru tetap berjuang membantu negara. Alih-alih membalas, Natsir menggunakan pengaruhnya di kancah internasional untuk kepentingan nasional, seperti:

  1. Pergi ke Jepang untuk meyakinkan pemerintah Jepang agar membantu Indonesia.
  2. Membantu normalisasi hubungan dengan Malaysia.
  3. Mencairkan bantuan dan investasi dari Kuwait dan Arab Saudi.

Integritas Natsir ini diakui dunia internasional. Nakajima, staf dari Perdana Menteri Jepang Takeo Fukuda, bahkan menulis dalam artikelnya di majalah Media Dakwah saat Natsir wafat pada tahun 1993, bahwa "di hadapan Mohammad Natsir, [Takeo] Fukuda itu seperti budak," sebuah ungkapan untuk menggambarkan rasa hormat yang sangat mendalam dari Jepang kepada Natsir.

Kesempatan untuk hidup mewah atau kaya raya sebetulnya terbuka lebar bagi Natsir, mengingat ia dipercaya oleh pemerintah Jepang dan Saudi. Namun, beliau memilih untuk tidak melakukannya. Kesederhanaan Natsir begitu melegenda. Bahkan, ketika menjabat sebagai Menteri Penerangan, jas beliau bertambal, sampai-sampai anak buahnya harus berinisiatif patungan untuk membelikan jas baru.

Memilih Jalan Guru dan Dai Tanpa Gaji

Fakta menarik lainnya dari kehidupan Natsir adalah latar belakang keluarganya yang sederhana. Berbeda dengan Buya Hamka yang berasal dari keturunan ulama besar, orang tua Natsir hanyalah pegawai rendahan.

Dalam perjalanan hidupnya, Natsir memiliki idealisme yang tinggi. Beliau sempat ditawari beasiswa untuk kuliah ke Belanda atau Jakarta, namun menolaknya. Beliau memilih untuk menjadi guru, mendidik masyarakat dan anak-anak agar mengerti agama, bahkan tanpa dibayar. Natsir memilih mendirikan sekolah partikelir (Pendidikan Islam atau Pendis) dengan gaji yang jauh lebih kecil (Rp 17,50), padahal jika menjadi pegawai pemerintah dengan kurs waktu itu, beliau bisa mendapat gaji setara 15 hingga 20 juta rupiah per bulan (nilai kurs yang disampaikan merujuk perbandingan kontemporer). Pilihan ini menunjukkan tingginya idealisme Natsir.

Warisan keteladanan Natsir sebagai guru dan dai terus hidup melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Dr. Adian Husaini berbagi pengalamannya bertemu dengan para dai DDII yang bertugas di pulau-pulau terluar seperti Pulau Enggano, pedalaman Bengkulu, Sumatera Selatan, hingga Maluku. Mereka adalah lulusan SMA yang dididik langsung oleh Natsir melalui pelatihan singkat (40 hari hingga 2 bulan) di Pesantren Darul Falah Bogor. Surat Keputusan (SK) penugasan mereka bahkan masih ditandatangani oleh Mohammad Natsir, menunjukkan komitmen beliau dalam mencetak kader hingga ke pelosok negeri.

Kisah Mohammad Natsir, seorang menteri berjas tambalan yang lebih memilih mendidik umat daripada mencari kekayaan, kini menjadi judul film yang dirindukan: Natsir yang Dirindukan. Sosok negarawan yang mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompoknya, adalah teladan yang sangat relevan untuk diteladani oleh bangsa ini.

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait