Memasuki gerbang tahun 2026, wajah Indonesia diwarnai oleh beragam spektrum emosi. Di tengah hiruk-pikuk media sosial, kegelisahan akan masa depan seringkali beradu dengan harapan.
adianhusaini.id, Jakarta-- Namun bagi Dr. Adian Husaini, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), menyikapi perubahan zaman bukanlah soal menimbang kecemasan, melainkan soal menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim.
Dalam sebuah diskusi mendalam mengenai arah bangsa, Dr. Adian menekankan bahwa bagi setiap pribadi Muslim, pesimisme bukanlah sebuah pilihan. "Sebagai pribadi, kita tidak punya pilihan kecuali harus optimis. Kita boleh memprediksi apa yang akan terjadi, tetapi kewajiban kita adalah terus berjuang dan menjalankan peran proporsional kita di hadapan Allah," tegasnya.
Mendefinisikan Ulang Kemungkaran di Era Modern
Salah satu poin krusial yang diangkat Dr. Adian adalah perlunya kejernihan dalam mendefinisikan "kemungkaran". Selama ini, kemungkaran seringkali hanya disempitkan pada fenomena kasat mata seperti korupsi atau kemaksiatan di jalanan. Namun, menurut Dr. Adian, terdapat kemungkaran yang jauh lebih fundamental dan berbahaya: kemungkaran konseptual.
Ia menyoroti bahwa konsep pembangunan yang keliru—yang hanya menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan peningkatan iman, takwa, dan akhlak mulia—adalah sebuah bentuk kemungkaran. Demikian pula dengan sistem pendidikan yang sekuler.
"Korupsi itu mungkar, kerusakan hutan itu mungkar. Tapi menyekutukan Allah (syirik) adalah kemungkaran yang paling besar karena ia merampas hak Tuhan untuk diibadahi secara tunggal," jelas Dr. Adian. Baginya, pendidikan yang memisahkan nilai agama dari ilmu pengetahuan adalah tantangan besar yang harus dikoreksi demi masa depan generasi bangsa.
Tantangan Politik dan Perlunya "Tobat Kebijakan"
Mencermati dinamika pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Dr. Adian yang juga memiliki latar belakang sebagai wartawan politik memberikan analisis yang tajam. Ia melihat tantangan yang dihadapi pemerintah saat ini sangat masif, mulai dari praktik korupsi yang merambah hingga ke pelosok desa hingga ancaman disintegrasi bangsa.
Ia mengingatkan bahwa Presiden bukanlah sosok absolut dengan kekuatan tanpa batas. Ada realitas politik dan tuntutan dari berbagai kekuatan pendukung yang harus dikelola. Oleh karena itu, Dr. Adian mendorong pemerintah untuk senantiasa mencari pertolongan Allah dalam setiap kebijakan.
"Tantangannya sangat berat. Perlu pertolongan Allah. Saya tidak menyarankan tobat nasional yang sifatnya seremonial atau ramai-ramai, melainkan tobat yang ditunjukkan melalui perbuatan nyata dan kebijakan yang berpihak pada kebenaran," tambahnya.
Selain itu, ia memberikan saran strategis mengenai komunikasi publik pemerintah. Di era media sosial di mana informasi mudah dipotong-potong di luar konteks, pemerintah membutuhkan komunikator atau juru bicara yang canggih—sosok yang mampu menjadi jembatan dialog yang efektif antara pemimpin dan rakyat agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada kegaduhan.
Peran Ormas: Kritik Berbasis Riset
Sebagai pimpinan Dewan Da’wah, Dr. Adian menegaskan bahwa peran organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam harus tetap pada jalur tausiah atau memberikan nasihat. Namun, nasihat tersebut tidak boleh hanya berupa teriakan di jalanan, melainkan harus berbasis data dan riset yang kuat.
Ia mencontohkan langkah DDII dalam menyikapi kasus Rempang, di mana organisasi tersebut menurunkan tim untuk melakukan analisis mendalam mengenai akar masalah dan menyampaikan hasilnya secara formal melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI) kepada pemerintah. Pendekatan ini menunjukkan bahwa amar makruf nahi mungkar di level kebijakan memerlukan intelektualitas dan kesungguhan riset, bukan sekadar retorika.
Tanggung Jawab Terbesar: Keluarga dan Pendidikan
Di balik isu-isu besar kenegaraan, Dr. Adian kembali mengingatkan tentang esensi tanggung jawab individu. Di akhirat kelak, setiap orang tidak akan ditanya tentang kebijakan presiden atau gubernur, melainkan tentang bagaimana mereka mendidik keluarga mereka sendiri.
Mengutip ayat “Anfusakum wa ahlikum naro” (jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka), ia menekankan bahwa tugas utama seorang Muslim adalah menjadi pemimpin di rumah tangganya. Sebagai ayah dari tujuh anak, ia mempraktikkan langsung prinsip bahwa pendidikan karakter dimulai dari unit terkecil masyarakat.
Penutup: Tetap Menanam Pohon Meski Kiamat Menjelang
Menutup pandangannya, Dr. Adian memberikan pesan kuat bagi generasi muda dan seluruh umat Islam. Mengutip pesan Nabi SAW tentang kewajiban menanam pohon meskipun esok adalah hari kiamat, ia mengajak masyarakat untuk tidak terlena oleh masalah-masalah yang tidak pokok (furu’iyah) atau perbedaan pendapat yang hanya melemahkan persatuan.
"Tahun 2026 harus kita hadapi dengan kualitas diri yang lebih baik, keilmuan yang lebih dalam, dan produktivitas yang tidak berhenti. Jangan biarkan perbedaan pendapat membuat kita lemah. Fokuslah pada hal-hal pokok yang membangun bangsa dan iman," pungkasnya.
Optimisme 2026, bagi Dr. Adian Husaini, bukanlah sebuah angan-angan kosong, melainkan sebuah rencana kerja yang dibangun di atas fondasi iman, pendidikan yang benar, dan tanggung jawab nyata kepada Sang Pencipta. (Berdasarkan Pemikiran Dr. Adian Husaini)
Link Video: https://youtu.be/8mnyt8AJF3Q



