BEGINI CARA KETUM DDII MENDIDIK ANAK-ANAKNYA JADI GURU

BEGINI CARA KETUM DDII MENDIDIK ANAK-ANAKNYA JADI GURU

 Banyak tokoh atau lembaga pendidikan yang bangga anak-anaknya lulus SMA dan diterima di kampus-kampus favorit. Biasanya pula, jurusan-jurusan yang dianggap paling favorit bukanlah jurusan keguruan. Tapi, itu tidak berlaku untuk Dr. Adian Husaini.

Adianhusaini.id, Depok-- Dr. Adian justru mengarahkan anak-anaknya agar menjadi guru.  Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu memang dikenal sebagai ilmuwan dan praktisi pendidikan. Ia telah menulis beberapa buku dan ribuan artikel tentang pendidikan (lihat: www.adianhusaini.id). Sejak tahun 2000, bersama istrinya, Megawati, ia mendirikan TK At-Taqwa Depok. Ia pun berusaha mendidik anak-anaknya menjadi guru.

 “Menjadi guru itu mulia. Kakek saya dan beberapa paman saya adalah guru ngaji. Ayah saya guru SD.  Saya dulu diterima kuliah di jurusan Pendidikan Fisika IKIP Malang, tapi saya ditakdirkan kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Lulus S1, saya langsung menjadi guru Biologi di sebuah pesantren,” tuturnya suatu ketika.

 Maka, ia pun mengarahkan anak-anaknya agar mau menjadi guru. Ia berkisah, tujuh anak-anaknya diarahkan untuk menjadi guru. Anak pertama, dan kedua nyantri di Pesantren Gontor. Anak pertama pernah menjadi guru dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. “Saya terus menasehati agar jangan sampai tidak mengajarkan ilmunya dari pesantren,” ujarnya.

Anak kedua, Bana Fatahillah,  telah menjadi guru sejak lulus Pesantren Gontor sebelum kuliah ke Mesir. Disamping itu, ia dilatih ketrampilan menulis. Lulus S1 dari Universitas Al-Azhar Mesir, Dr. Adian meminta anaknya pulang dan mengajar di pondok. Padahal, Syaikh-nya memintanya untuk melanjutkan S2 di Mesir.

“Saya minta dia mengajar dan memimpin pendidikan tingkat SMP,” kisahnya. Menurut Dr. Adian, menjadi guru adalah pekerjaan besar dan mulia, sehingga memerlukan latihan-latihan yang ikhlas dan sungguh-sungguh. “Menjadi guru yang baik tidak bisa instan,” lanjutnya lagi.

Bana Fatahillah menuruti nasehat ayahnya. Ia balik ke Indonesia dan menjadi guru di Pesantren At-Taqwa Depok. Ia kemudian menyelesaikan Program S2-nya di Institut Ilmu al-Quran Jakarta. Selama di Mesir, Bana sempat memimpin Rumah Tahfidz Mesir dan menjadi pemimpin redaksi Majalah La-Tansa IKPM. Bana memimpin pendidikan tingkat SMP dan SMA di Pesantren.

Bana juga telah menulis beberapa buku dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab, diantaranya:  Kapita Selekta: Pendidikan & Pemikiran dari Teras Al-Azhar, dan beberapa kutaib:  (1) Taisirul Bayan fi Ulumil Qur'an (2) Al-Abqariyyul Hisan Dirasah Mujazah fi Ilmil Bayan  (3) Zaadul Khair Lamhatun fi DIrasatit Tafsir wal Mufassir (4) Diraasaat fi Ulumil Qur'an (5) Kita dalam Untaian Kata; Sebuah Ikhtiar Sepenuh Ikrar. (Lihat: Ucapan Selamat dari Gubernur Anies Baswedan: https://web.facebook.com/watch/?v=195738412541539).

Anak ketiga, Dina Farhana juga kini menjadi guru dan penanggung jawab kurikulum di Pesantren At-Taqwa. Sejak tingkat SD, Dina dididik di rumah (homeschooling) dan membantu ibunya mengajar dan mengelola TK di rumah. Ia kuliah pendidikan sejarah di UHAMKA Jakarta dan menyelesaikan S2-nya dalam bidang Ilmu Sejarah di UI Depok.

Salah satu inovasinya adalah menyusun dan menerapkan pendidikan Siroh Nabawiyah selama 12 semester di tingkat SMP dan SMA. Dina telah menikah dan dikaruniai seorang anak. “Ketika lamaran, calon suaminya saya minta menandatangani pernyataan tidak membawa anak saya keluar pesantren,” kata Dr. Adian, dengan menekankan, bahwa pekerjaan guru itu sangat berat karena memperbaiki pemikiran dan hati manusia.

Anak keempatnya, Fatiha A. Kamila, pernah menyelesaikan hafalan al-Quran 30 juz, lalu belajar bahasa Arab di Sudan selama setahun. Ia lulus kuliah S1 bidang desain interior di UNS Solo. Kini, ia membantu pengelolaan Pesantren Adab dan Ilmu (PADI) -- pendidikan tingkat SD di YPI At-Taqwa Depok. Ia juga membantu pengelolaan bidang desain dan penerbitan pesantren.

Anak kelima, Fatih Madini, sejak SD sudah belajar di Perguruan At-Taqwa Depok. Sejak usia 12 tahunan, ia sudah menjadi guru Taekwondo untuk anak-anak SD di Brimob Taekwondo Training Center (BTTC) Kelapa Dua Depok. Ia  menerbitkan buku pertamanya di usia 16 tahun dan mengisi kuliah umum untuk mahasiswa baru di satu kampus di Banjarmasin pada umur 17 tahun. (https://hidayatullah.com/berita/berita-dari-anda/2019/09/14/170585/fatih-madini-bahas-pendidikan-adab-di-depan-mahasiswa-uniska.html).

Lulus S1 dari Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir – DDII, Fatih Madini kini menjadi guru dan sekretaris Pendidikan tingkat SMA di Pesantren At-Taqwa Depok. Ia juga menjadi editor tulisan para santri. Salah satu inovasinya, menyusun kurikulum dan mengajar pelajaran Islamic Worldview selama 5 semester untuk tingkat SMP dan SMA.

Berikut ini beberapa buku yang telah ditulisnya: (1) Mewujudkan Insan dan Peradaban Mulia (2018). (2) Reformasi Pemikiran Pendidikan Kita (2020), (3) Solusi Kekacauan Ilmu (2022), (4) 15 Topik Aktual sebagai Bekal Menjadi Guru Ideal (2024), (5) Respon Mohammad Natsir terhadap Sekularisme (skripsi di STID M Natsir). (https://mediadakwah.id/sarjana-ddii-ini-lulus-setelah-tulis-empat-buku-dan-skripsi-serius-tentang-pemikiran-m-natsir/).

Anak keenam bernama Alima Pia Rasyida, kini juga aktif menjadi guru di Pesantren At-Taqwa Depok, sembari kuliah di STID M Natsir. Selain mengajar al-Quran, bahasa Arab, dan silat, Alima juga membantu manajemen pesantren. Alima sempat ingin kuliah ke Mesir, tetapi disarankan agar ia terjun langsung menjadi guru dan pembimbing santri. “Menjadi guru dan pemimpin itu perlu latihan yang panjang,” kata Dr. Adian.

Disamping mengajar, Alima terus dilatih untuk menulis. Ini salah satu contoh tulisannya: https://mediadakwah.id/pesantren-sebagai-lembaga-perjuangan/. Ketika SMA, Alima pernah mempresentasikan makalahnya di Malaysia dengan judul: “Kiprah Pesantren dalam Perubahan Sosio-Politik di Masa Kerajaan Islam.”

Anak ketujuh, Asad Hadhari, saat ini sedang nyantri tingkat SMP di Pesantren At-Taqwa Depok.  Dr Adian menerapkan kebijakan agar anak-anaknya membayar penuh biaya pendidikan dan kuliahnya, meskipun di pesantren dan kampus sendiri. Katanya, infaq pendidikan itu besar sekali pahalanya.

 “Saya mengikuti pemikiran Pak Natsir bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh guru-guru yang suka berkorban untuk bangsanya. Juga nasehat KH Imam Zarkasyi, agar para santri mau menjadi orang besar, yaitu orang-orang yang mengajarkan ilmunya sampai ke pelosok-pelosok dan kolong jembatan,” tutur Dr. Adian yang belum lama meluncurkan bukunya: Mohammad Natsir, Negarawan Guru Dai Teladan.

Dr. Adian juga dikenal dengan ungkapannya, bahwa para guru adalah mujahid intelektual dan kreator peradaban. “Guru bukan tukang ngajar bayaran,” ujarnya di berbagai kesempatan. Karena itulah, ia mengajak para santrinya untuk menjadi guru pejuang. Hasilnya, telah banyak guru dan ilmuwan muda lahir dari Pesantren At-Taqwa Depok. (https://attaqwa.id/liputan/baca/semoga-kiprah-guru-guru-muda-ini-menginspirasi-negeri).

Dr. Adian telah memimpin Program Doktor Pendidikan Islam di UIKA Bogor hampir 15 tahun. Ia telah mengembangkan model Pendidikan Guru selama tiga hari di Pesantren At-Taqwa Depok. Namanya: KURSUS SINGKAT GURU BERADAB (KSGB). Program ini telah berlangsung enam angkatan.

“Semoga suatu saat pemerintah berminat untuk melihat langsung proses pendidikan guru pejuang di Pesantren At-Taqwa Depok. Konsep, aplikasi, dan hasilnya nyata,” tutur Adian Husaini.  (27 Desember 2025). (Humas DDII).

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait