BENCANA PENDIDIKAN: 58 Persen GURU PAI TIDAK FASIH BACA AL-QURAN

BENCANA PENDIDIKAN: 58 Persen GURU PAI TIDAK FASIH BACA AL-QURAN

Oleh: Dr. Adian Husaini

            Banyak yang ajaib di negeri kita. Salah satunya, ada guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak bisa membaca al-Quran dengan baik. Ini data resmi dari Kementerian Agama RI. Lho, kok bisa? Ya bisa saja! Itulah faktanya!

            Ini data resmi Kemenag. Hasil asesmen Pendidikan Agama Islam (PAI) 2025 menunjukkan, sebanyak 58,26 persen guru PAI tingkat SD di Indonesia belum fasih membaca Al-Qur'an atau masih berada pada kategori pratama atau dasar. Ada 160.143 guru PAI SD/SDLB di seluruh Indonesia yang mengikuti tes dan kuesioner melalui aplikasi SIAGA Kemenag.

            Ini musibah besar. Ini bencana pendidikan nasional. Kesalahannya bertingkat-tingkat. Harusnya, lulus SD saja, para guru agama itu sudah harus bisa membaca al-Quran dengan baik. Jadi, pendidikannya sudah salah sejak tingkat SD, lalu SMP.

            Kesalahan dan keanehan itu berlanjut lagi ke jenjang SMA atau Aliyah. Kok bisa, murid lulus Madrasah Aliyah tapi tidak lancar baca al-Quran. Bagaimana bisa diluluskan? Jangan-jangan, lulusan Madrasah Aliyah masih ada juga yang tidak bisa shalat dengan benar.

Musibah lebih besar lagi terjadi di tingkat Pendidikan Tingginya. Jika mereka menempuh pendidikan tinggi jurusan PAI, kita patut bertanya, pendidikan tinggi Islam macam apa yang meluluskan sarjana PAI, tapi tidak bisa membaca al-Quran dengan baik.

Dan terakhir, bencana pendidikan nasional itu terjadi ketika tes masuk calon guru PAI. Siapa yang menyeleksi para calon guru PAI itu? Kok bisa, calon guru PAI tidak lancar baca al-Quran, tetapi diloloskan.

Hasil penelitian Kemenag ini wajib ditindaklanjuti dengan serius; dijadikan bahan evaluasi total terhadap kondisi Pendidikan Islam. Saat ini, posisi guru PAI begitu penting dalam upaya meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan akhlak para murid. Itulah amanah konstitusi dan UU Sisdiknas.

Tapi, bukan hanya jajaran Kemenag yang perlu melakukan introspeksi. Kita semua, umat Islam juga perlu melakukan introspeksi. Profesi guru PAI masih dianggap profesi rendahan yang tidak bergengsi. Kalah bergengsi dengan profesi lainnya.

Hingga kini, hampir tidak kita temukan ada anak-anak pintar yang dengan sengaja menjadikan jurusan (Prodi) PAI sebagai tujuan utama kuliahnya setelah lulus pendidikan tingkat SMA. Padahal, menjadi guru PAI begitu mulia tugasnya.

Jadi, mari kita jadikan musibah pendidikan ini sebagai bahan introspeksi total dan menyeluruh dalam pendidikan kita. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, melindungi kita dari beragai bencana. Amin. (Pekanbaru, 2 Januari 2026).

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait