Di tengah musibah bencana alam seperti banjir yang sedang melanda masyarakat saat ini, perhatian publik seringkali tertuju pada bantuan fisik dan logistik semata. Namun, di balik fenomena alam dan krisis sosial yang tampak di permukaan, terdapat persoalan yang jauh lebih fundamental bagi umat Islam. Dr. Adian Husaini, merujuk pada pemikiran Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas, menegaskan bahwa pusat dari segala krisis—baik lingkungan, ekonomi, maupun politik—adalah fenomena kehilangan adab (loss of adab).
Kegelisahan Sejarah: Mengapa Umat Islam Terpuruk?
Sepanjang abad ke-20 hingga kini, umat Islam seringkali diliputi pertanyaan besar mengenai ketidakberdayaan mereka di panggung dunia. Sejarah mencatat serangkaian kekalahan pahit, mulai dari Deklarasi Balfour 1917, berdirinya negara Israel pada 1948, hingga jatuhnya wilayah Palestina dalam perang 1967 dan 1973. Padahal, secara teologis, umat Islam adalah Khairu Ummah atau umat terbaik.
Berbagai analisis muncul untuk mendiagnosis kelemahan ini. Ada yang menganggapnya sebagai akibat hilangnya kekuasaan politik (khilafah) sejak 1924, faktor kemiskinan, ketertinggalan sains, hingga pengabaian terhadap sunnah. Namun, dalam Konferensi Pendidikan Islam di Makkah tahun 1977, Prof. al-Attas menawarkan tesis yang lebih mendalam: akar masalah umat bukanlah politik atau ekonomi, melainkan kekacauan ilmu (confusion of knowledge) yang berujung pada hilangnya adab.
Dominasi Peradaban Barat dan Dekonstruksi Ketuhanan
Tantangan terberat yang dihadapi umat saat ini adalah tantangan ilmu pengetahuan yang dirumuskan dan disebarluaskan oleh peradaban Barat sekuler. Dalam pandangan Dr. Adian, peradaban Barat modern memiliki watak yang merusak karena proses "humanisasi Tuhan" dan "deifikasi manusia".
Manusia modern cenderung mengangkat diri mereka sebagai penentu kebenaran (Tuhan), sementara Tuhan dianggap tidak lagi relevan dalam mengatur urusan kehidupan (sekularisme). Hal ini berakar dari trauma sejarah masyarakat Eropa terhadap otoritas gereja di masa lalu yang menyebabkan mereka enggan diatur oleh agama. Akibatnya, manusia kehilangan adab terhadap alam; hutan, laut, dan mineral tidak lagi dipandang sebagai ciptaan Allah yang harus dijaga, melainkan objek eksploitasi demi kepuasan materi.
Pendidikan yang Salah Arah: Mencetak Buruh, Bukan Manusia
Dr. Adian juga menyoroti sistem pendidikan yang saat ini lebih mengedepankan aspek materialistik. Mengutip Ki Hajar Dewantoro, pendidikan model Barat kolonial dirancang hanya untuk melahirkan "buruh" yang dididik pikiran dan jasadnya saja, tanpa sentuhan adab dan budi pekerti.
Ketika pendidikan hanya bertujuan mengejar nilai bagus agar bisa bekerja di tempat bergengsi dan meraih gaji besar, maka yang lahir adalah mentalitas materialisme (kemurkaan benda) dan individualisme (kemurkaan diri). Dampaknya nyata: orang menghalalkan segala cara untuk meraih jabatan, melakukan suap, hingga merusak lingkungan demi keuntungan sesaat. Kondisi ini selaras dengan peringatan Mohammad Natsir tentang penyakit "cinta dunia yang berlebihan" (hubbud dunya), yang jika dibiarkan, dapat membawa umat pada nasib tragis seperti lenyapnya peradaban Islam di Andalusia.
Solusi Kebangkitan: Takdib dan Jihad Pendidikan
Kebangkitan umat tidak akan pernah terjadi tanpa proses takdib, yaitu pendidikan yang mengembalikan adab kepada tempatnya yang benar. Adab adalah kemampuan mengenali hakikat segala sesuatu sesuai dengan ketentuan Allah—mulai dari adab kepada Allah, kepada alam, hingga kepada sesama manusia.
Tujuan utama pendidikan Islam haruslah melahirkan "Mujahid Dakwah" atau pejuang-pejuang yang memiliki jiwa pengorbanan. Jika sebelum merdeka para pejuang bertanya, "Apa yang bisa saya berikan untuk negara?", maka generasi masa depan harus mengembalikan semangat pengabdian tersebut dan menjauhkan diri dari sikap serakah.
Harapan besar diletakkan pada generasi "Indonesia Emas 2045" untuk memperbaiki kerusakan yang telah berlangsung lama ini. Dengan literasi yang tinggi dan adab yang kokoh, optimisme kebangkitan peradaban Islam bukanlah sekadar impian, melainkan sebuah kepastian yang harus diperjuangkan melalui jalur pendidikan yang benar. [Berdasarkan Kajian Dr. Adian Husaini]
Link Youtube: https://youtu.be/TRqvx9FwxxI



