Membangun Peradaban dari Pesantren: Menyiapkan Generasi Literat di Tengah Gempuran AI

Membangun Peradaban dari Pesantren: Menyiapkan Generasi Literat di Tengah Gempuran AI

 Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan banjir informasi di era digital, dunia pendidikan Indonesia menghadapi tantangan yang belum pernah ada sebelumnya.

Adianhusaini.id, Depok-- Dr. Adian Husaini, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) sekaligus pendiri Pesantren Attaqwa Depok, memberikan peringatan keras: jika tidak waspada, generasi mendatang berisiko menjadi "budak robot" yang kehilangan kemampuan berpikir kritis dan orisinal.

Menurut Dr. Adian, pendidikan saat ini sedang berhadapan dengan hegemoni konten yang merusak serta dominasi teknologi yang dapat mematikan daya nalar. "Anak-anak kita ke depan tidak akan bisa berpikir lagi jika mereka sudah sangat bergantung dengan kecerdasan buatan," ujarnya dalam sebuah pernyataan serius mengenai masa depan pendidikan nasional.

Melawan Ketergantungan AI dengan Budaya Literasi

Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, Pesantren Attaqwa Depok menginisiasi model pendidikan yang menekankan pada kekuatan budaya literasi sejak dini. Berbeda dengan konsep problem-based learning biasa, Dr. Adian menekankan pentingnya melatih santri untuk "berpikir bijak" atau menanamkan hikmah sejak usia belasan tahun.

Literasi yang dikembangkan di sini bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis tingkat dasar, melainkan literasi beradab dan tinggi. Para santri kelas 1 SMP sudah mulai dilatih untuk melakukan riset, memecahkan masalah, dan mengasah ketajaman analisis mereka.

Bukti Nyata: Karya Serius dari Penulis Belasan Tahun

Keberhasilan model pendidikan ini bukan sekadar teori. Dr. Adian menunjukkan deretan buku karya para santri yang ditulis pada usia 16 hingga 18 tahun—sebuah pencapaian yang umumnya baru diraih pada tingkat pascasarjana.

Salah satu sosok yang menonjol adalah Farel Ahmad Bijaksana, cicit dari ulama besar Buya Hamka. Di usianya yang baru menginjak 18 tahun, Farel telah menghasilkan kumpulan tulisan dan makalah serius dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan referensi yang kaya. Karyanya bahkan telah diserahkan langsung kepada Menteri Pendidikan Malaysia serta Menteri Pendidikan Indonesia, Prof. Abdul Mu'ti. Buku Farel juga telah resmi diluncurkan di Rumah Hamka (Ruhama), yang merupakan markas Muhammadiyah di Malaysia.

Selain Farel, terdapat nama-nama lain seperti:

  • Nabil Abdurrahman: Menulis buku "Indonesia Cerdas" pada usia 17 tahun yang membedah gagasan tentang sains, filsafat, sejarah, dan kebudayaan. Kini, Nabil telah menjadi guru dan menempuh studi lanjut.
  • Raisyah: Menulis analisis mendalam mengenai konsep kebebasan dalam perspektif Islam vs Barat, sebuah kritik cerdas terhadap pemikiran sekuler.
  • Azam: Menulis tentang hikmah sejarah dan kritik terhadap netralitas ilmu. Saat ini, ia sedang menempuh studi S2 di Universiti Teknologi Malaysia (UTM).
  • Fatih Madini: Seorang guru muda yang telah menulis beberapa buku sejak usia 16 tahun, termasuk karya fenomenal "Solusi Kekacauan Ilmu". Baru-baru ini, ia menyelesaikan skripsi S1 setebal lebih dari 500 halaman yang membedah pemikiran Muhammad Natsir dalam menghadapi sekularisme.

Kurikulum Berbasis Pemikir Besar

Kualitas tulisan para santri ini tidak lahir dari ruang hampa. Di Pesantren Attaqwa, santri tingkat SMA sudah diperkenalkan dengan kitab-kitab klasik dan pemikiran tokoh-tokoh besar. Dalam waktu 1,5 tahun, mereka mengkhatamkan buku legendaris Islam and Secularism karya Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Mereka juga mengkaji kitab Ihya Ulumiddin (Bab Ilmu) karya Imam Al-Ghazali, serta pemikiran tokoh nasional seperti Muhammad Natsir, Buya Hamka, dan KH Hasyim Asy'ari. Tujuannya jelas: agar pemikiran mereka tidak sempit. Mereka didorong untuk memahami masalah masyarakat, bangsa, dan umat manusia, lalu merumuskan solusinya.

Guru Sebagai Pemimpin, Bukan "Tukang Ajar"

Dr. Adian juga meredefinisi peran pendidik. Di lingkungannya, menjadi guru bukan sekadar profesi mencari nafkah, melainkan kesempatan melatih kepemimpinan. Ia meneladani tokoh-tokoh besar seperti Panglima Sudirman, Bung Hatta, dan Moh. Natsir yang semuanya berangkat dari latar belakang sebagai guru.

"Kita tidak hanya melatih orang bisa menulis, tapi adab, akhlak, dan jiwa perjuangannya harus ditanamkan. Cinta ilmu dan cinta dakwah harus menyatu," tegasnya.

Harapan Masa Depan

Hingga saat ini, Pesantren Attaqwa telah mengantongi lebih dari 70 skripsi tingkat SMA dan 300 lebih artikel ilmiah yang siap diterbitkan. Dalam usia 10 tahun perjalanannya, pesantren ini berharap dapat menjadi salah satu model pendidikan nasional yang unggul.

Sebagai penutup, Dr. Adian mengajak para praktisi dan pengamat pendidikan untuk tidak sekadar menonton, tetapi terlibat nyata dengan mengapresiasi karya-karya intelektual para santri ini. "Bantu para santri ini untuk berkembang dengan memiliki karya-karya mereka. Ini adalah investasi untuk masa depan peradaban kita," pungkasnya.

Link Video: https://youtu.be/3nraTZc69ww

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait