Menulis sebagai Kewajiban: Menelusuri Jejak Pemikiran dan Perjalanan Literasi Dr. Adian Husaini

Menulis sebagai Kewajiban: Menelusuri Jejak Pemikiran dan Perjalanan Literasi Dr. Adian Husaini

 Bagi Dr. Adian Husaini, menulis bukanlah sekadar hobi atau karier profesional. Menulis adalah sebuah "kewajiban" spiritual.

 Adianhusaini.id, JAKARTA – Sebagai sosok yang telah melahirkan puluhan karya tulis, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) ini memandang kemampuannya merangkai kata sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta.

Meski mengaku sempat lupa jumlah pasti buku yang telah diterbitkannya, jejak literasi Adian Husaini telah mewarnai diskursus keislaman, politik, hingga pendidikan di Indonesia selama hampir tiga dekade.

Jejak Awal: Dari Wartawan hingga Pengamat Politik

Minat menulis Adian telah tumbuh sejak masa mahasiswa. Sebelum dikenal sebagai pakar pemikiran Islam, ia sempat mencicipi dunia jurnalistik. Pengalaman ini membentuk gaya penulisannya yang analitis namun tetap renyah dibaca.

Salah satu karya awalnya yang monumental adalah Bintang Menyongsong Suksesi, sebuah buku yang menganalisis perjalanan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) melalui wawancara mendalam dengan berbagai tokoh bangsa. Sayangnya, arsip buku ini kini sulit ditemukan.

Namun, tonggak sejarah literasinya yang paling diingat publik adalah buku Habibie, Soeharto, dan Islam yang terbit pada tahun 1995. Saat itu, Adian yang baru berusia 28 tahun dan baru saja menempuh hidup baru dalam pernikahan, berhasil membedah hubungan dinamis antara penguasa Orde Baru dengan aspirasi umat Islam. Buku ini menjadi sangat populer dan dibedah di berbagai kampus besar di tanah air.

 

Menjaga Gawang Pemikiran: Kritik Terhadap Liberalisme

Memasuki era 2000-an, fokus penulisan Adian Husaini bergeser ke arah pengokoh pemikiran Islam (worldview). Ia dikenal sebagai salah satu kritikus utama gerakan Islam Liberal. Melalui buku Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya (2002), ia memberikan argumen tandingan terhadap pemikiran Jaringan Islam Liberal (JIL).

Menariknya, meski berseberangan secara pemikiran dengan tokoh-tokoh seperti Ulil Absar Abdalla, Adian tetap menjaga hubungan baik secara pribadi. "Meskipun kami berbeda pandangan dan saling kritik, komunikasi tetap berjalan," ungkapnya, menunjukkan sisi kedewasaan intelektual dalam berdakwah.

Selain isu liberalisme, Adian juga produktif merespons isu-isu hukum dan sosial yang kontroversial, seperti buku Rajam dalam Arus Budaya Syahwat (2001) yang mengulas kasus hukum rajam di Ambon dalam perspektif Islam dan hukum positif di Indonesia.

 

Akademisi yang Diakui di Panggung Internasional

Sisi serius Adian Husaini sebagai akademisi terlihat jelas dari publikasi tesis dan disertasinya. Buku Pragmatisme Politik Luar Negeri Israel (2001) menunjukkan ketajamannya dalam menganalisis konflik Timur Tengah, bahkan jauh sebelum isu Hamas menjadi perbincangan luas saat ini.

Prestasi literasinya mendapat pengakuan tertinggi di ajang Islamic Book Fair. Buku Wajah Peradaban Barat meraih penghargaan sebagai Pemenang Pertama pada tahun 2006, disusul oleh Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam yang meraih Pemenang Kedua pada tahun 2007. Setelah pencapaian tersebut, ia tidak lagi diizinkan ikut berkompetisi dan justru diminta menjadi juri dalam ajang bergengsi tersebut.

 

Pendidikan dan Novel: Menjangkau Generasi Muda

Adian menyadari bahwa pemikiran yang berat perlu disederhanakan agar bisa diterima oleh generasi muda. Inilah yang melatarbelakangi lahirnya novel Kemi. Melalui medium fiksi, ia menyelipkan pesan tentang bahaya sekularisme dan liberalisme dengan cara yang menarik, bahkan bagi anak-anak tingkat sekolah dasar.

Bagi mahasiswa atau pencari ilmu, ia menyarankan lima buku inti sebagai panduan memahami konsep Islam yang benar, di antaranya 10 Kuliah Agama Islam: Panduan Menjadi Cendekiawan Mulia dan Bahagia. Di Pesantren At-Taqwa, materi ini bahkan diajarkan secara intensif untuk membentengi aqidah siswa sejak dini.

 

Menatap Indonesia 2045

Sebagai Ketua Umum Dewan Da’wah, visi Adian kini tertuju pada masa depan bangsa. Melalui buku-bukunya tentang pendidikan, ia berupaya mengokohkan peta jalan pendidikan Islam untuk mewujudkan "Indonesia Adil Makmur 2045". Ia menekankan pentingnya konsep "Adab" sebagai pisau analisis dalam memahami Pancasila agar tidak terjadi salah paham, baik dari kalangan sekuler maupun muslim.

Di sisi lain, ia tetap menyajikan tulisan-tulisan populer yang dekat dengan keseharian, seperti kumpulan artikel Jangan Kalah Sama Monyet, yang menjadi materi rutin pengajian ibu-ibu di berbagai daerah.

 

Warisan Digital: 2.200 Artikel dan Terus Bertambah

Meski telah menulis puluhan buku, Adian Husaini tidak berhenti. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, ia telah memproduksi lebih dari 2.200 artikel yang dapat diakses secara gratis melalui situs resminya, https://adianhusaini.id/

Ke depan, ia berharap seluruh karya dan pemikirannya dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Baginya, setiap tetes tinta adalah langkah nyata menuju peradaban yang lebih beradab dan berkeadilan.

Link Video: https://youtu.be/MBIyo548LKA

 

Dipost Oleh Super Administrator

Admin adianhusaini.id

Post Terkait